Sajian Untuk Hari Fitri

8 10 2007
INDAH PADA WAKTUNYA

Hitungan di langit tak banyak lagi. Jika jari-jemarinya dia mainkan sesuai hitungan itu, maka tak akan melebihi jari jemari dari satu tangan. Saat jemari itu selesai menghitung, maka hari baru telah tiba. Idul Fitri. Hari yang membuat semua makhluk bumi ini tersenyum, bahkan mereka yang tak merayakannya sekalipun. Bagi mereka yang tidak memiliki Idul Fitri, setidaknya untuk sementara tersenyum karena bisa sementara berhenti untuk bertanya, mengapa perut dan leher manusia mesti diikat sebulan penuh lamanya.

Rani memilih tempat di sudut musholla kecil itu. Dilemparkannya pandang teliti pada buah hati semata wayangnya yang asyik berlarian di tanah lapang sebelah musholla. Rahmat memang belum terlalu mengerti. Dan sudah sifat khas anak-anak balita usianya, memandang waktu khotbah sebelum Witir sebagai jeda istirahat selayaknya di sekolah. Tapi Rani menjadi makin pilu. Telinganya mendengar sang Khatib bicara tentang hidayah dan kesabaran.

Tujuh tahun ia menanti. Batin Rani selalu mengulang bait-bait lagu tentang panjang sabar. Entah dia pahami entah tidak maknanya. Hanya saja baginya panjang sabar seolah tak mengenal titik. Ketika ia menanti, sujud-sujud khusuk tak lagi dia lakukan sendiri. Tatkala ia begitu merindukan seorang imam yang menuntunnya untuk bersujud bersama. Dan manakala tak lagi harus dijawabnya pertanyaan-pertanyaan Rahmat mengapa ayahnya tak bersujud bersama mereka.

Untaian kalimat lirih memohon sang Gusti membalikkan sebuah hati, laksana nyanyi sumbang pita kaset yang terlalu sering dia putar ulang. Hatinya mulai lelah. Tasbih ini makin usang. Tapi hati itu masih tertelungkup. Rani tak mengerti, adakah dia yang tak menyanyikannya dengan merdu karena begitu banyak noda dalam hidupnya. Ataukah Gusti memang tak ingin menengadahkan hati telungkup itu untuk menerima tetes embun yang Dia turunkan. Tapi Rani memang mulai lelah. Sangat lelah.

Dahana, suaminya, memang tak pernah menyertai dia dan Rahmat bersujud dalam keseharian. Hanya jika waktunya memaksa Dahana untuk menyentuhkan dahi di tanah maka Rani memiliki kemewahan melihat kecintaannya berdiri bersanding dengan Rahmat di atas sajadah panjang. Tapi hari makin senja dan malam akan segera menjelang. Malam gulita itu tak pernah jelas kapan ingin datang. Ketika tiba nanti, semestinya mereka yang dijemput telah mengucapkan salam serta mengirimkan doa-doa pengampunan untukNya. Betapa mengerikan jika doa-doa itu tak sempat lagi diucapkan.

Rani masih di sudut mushollah kecil itu. Dia bersimpuh dalam rakaatnya yang terakhir. Dan ketika semua orang beranjak pulang, tangannya masih terangkat terbuka menghantarkan kalimat-kalimat usang itu lagi. Airmatanya mengalir. Rahmat menantinya di sudut pintu mushollah. Matanya lekat pada ibunya.

Ibu, kenapa setiap kali ibu nangis? “

“ Karena Ibu bersyukur, sayang….Allah Maha Baik. Dia memberi kita segalanya. Kita sehat, Rahmat bisa sekolah di tempat yang bagus, kita bisa makan enak.” Rani berusaha tersenyum, sadar Rahmat masih memperhatikannya.

Ibu, kita bolehkan minta terus sama Tuhan ? “

Boleh….” , agak ragu Rani menjawab….,” Rahmat mau minta apa ? “

Cuma pengen kita bisa sholat sama Ayah…”

Rani tak mampu berkata. Airmatanya susah payah dia hentikan. Buru-buru dia persiapkan tidur anaknya itu agar nyaman. Agar mimpi yang paling indah. Agar dia punya kesibukan yang menghentikan tangisnya. Sebuah telinga lain mendengar di balik dinding, berawal dari lintasan tak disengaja yang terhenti tiba-tiba.

*****

Hitungan langit jadi genap di ufuk Timur. Sang Fitri telah datang memenuhi janjinya. Tanah lapang, mesjid berkubah emas, keramik, alumunium, dan semua mushollah penuh orang. Wajah-wajah tersaput wudhu, bersih dan segar, berhias lagi senyum setahun sekali. Yang berkeriput penuh bahkan merasa tak khawatir untuk menambahnya lagi dengan guratan tawa. Hari yang ditunggu yang seolah menebarkan banyak keajaiban.

Tangan-tangan yang tua menjadi harum. Berpadu dengan lutut menerima sembah maaf dari siapa yang ingin menciumnya. Dahana tak duduk menyediakan lutut. Hanya tangannya yang diperuntukkan bagi Rani dan Rahmat. Dan mereka saling mengucap maaf memberi cium sayang. Dan saat semua usai, Rani ingin berbalik melakukan banyak hal setelah ritual Fitri selesai.

“ Rani…..”, satu suara menggantung menghentikan dia. Wibawanya masih terasa di dada Rani ketika mendengar.
“ Ini adalah hari baru dari semua hari yang akan datang. Kau akan lihat”.
Rani berbalik dan memandang langsung pada mata suara itu. Mencari makna disana.
“ Aku juga punya rasa takut……..”

Airmata Rani mengalir lagi. Kini maknanya berbeda dengan yang selalu tumpah di sudut musholla.

———————————————–

PERMATA HATI mengucapkan :



Aksi

Information

23 responses

8 10 2007
angin-berbisik

bagus sekali cerpennya mbak…benar2 indah makna Idul Fitri ya…:) btw, kapan mulai cuti ngeblog utk menyambut Idul Fitri?

8 10 2007
Anonymous

Meski Idul Fitri, tinggal beberapa hari lagi (masih dalam hitungan satu jemari tangan)…

Iko ingin mengucapkan,…

Selamat Hari Raya Idul Fitri…
Semoga kita kembali kepada fitrahNya, amin…

cerpennya menyentuh

8 10 2007
-Fitri Mohan-

what a beautiful work you have! yang inikah yang bakal ditunjukkin ke mas YN? 😀

met mudik ya. ati2 di jalan. mau pake apa pulkamnya? kalo nyetir sendiri: jangan ditinggal tidur supirnya…kesian.

8 10 2007
amethys

selamat idul fitri juga jeng…maaf lahir dan bathin,
selamat berkumpul dengan keluarga besar….dan bahagia selalu

8 10 2007
Evi

met lebaran juga ….
maaf lahir bathin.
kapan mudik…? Insyaallah aku besok malam.

8 10 2007
Ely Meyer

semoga lancar mudiknya ya …. tetap ngeblog khan? ;D

Selamat berlebaran bersama keluarga
kalau ada salah kata selama ini mohon dimaafin lahir dan bathin ya ^_^

8 10 2007
ichal

ikut ngucapin met hari raya idhul fitri, mohon maaf lahir bathin!!

maklum, jiwa nan hampa, kadang lupa bahwa yg saya perbuat adalah dosa,

sekali lagi, jika ada dosa
mohon maaf lahir bathin

8 10 2007
mata

hik…..
ampe termehe mehe bacanya nih…

Minal aidin wal faizin ya jeung, mohon maaf lahir dan batin. maafkan kalau ada salah salah kata selama ini. ( banyak kali yah )

met lebaran dan salam buat semuanya.

8 10 2007
kenny

bakat terpendammu itu loh mbok diduduk, 😀
Met mudik ya ‘n selamat sampe tujuan
Selamat hari raya idul fitri

8 10 2007
isnuansa_maharani

awalnya saya pikir Mbak Endang cerita soal salah satu keluarganya, ternyata fiksi toh?

met lebaran ya, Mbak. cuti ngeblog 10 hari ya?

9 10 2007
Innuendo

nama fitri mohan disebut sebut mulu neh

sedih nek bacanya hikhikhik

9 10 2007
CempLuk

met menjelang ramadhan..cempluk meminta maaf bila ada kesalahan..

9 10 2007
ichaAwe

bagus cerpennya …
met idul fitri yah … moga kita ketemu lagi bulan ramadhan tahun depan..amin

9 10 2007
danudoank

taqoballahu minna waminkum, shiyamana wa shiyamakum… selamat berlebaran di kampung halaman… *itu cerpen toh? :d*

10 10 2007
aLe

minal minul ya Te,
eh kliru dink,
minal aidzin walfaidzin ya Te ^^v

mohon maaf (juga) jika aLe ada salah.

10 10 2007
mei

met lebaran mbak…lek mudik ati2 yo =)

10 10 2007
venus

maaf lahir batin,ndang. salam buat keluarga, ati2 di jalan ya?

11 10 2007
Totok Sugianto

Cerpennya betul2 menggetarkan hati..dan happy ending 🙂
Oh ya Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin..

20 10 2007
aroengbinang

cerita kehidupan yg enak dibaca dan perlu dicenungkan; tidak diragukan ada ribuan dahana di luar sana, dan di dalam sini.

apakah ada jawab bagi kehampaan hati yang membuat orang apatis karena ketiadaan toladan dari otoritas moral, dan syariat yg kehilangan makna karena rutinitas dan kebodohan orang yg kekal pada isi bacaan.

salam lebaran jeng, maaf lahir batin, smoga ada kebangkitan hati pikir raga jiwa pada semua

21 10 2007
CempLuk

begitu pula dengan cempluk : mhn maaf lahir dan batin y mbak..

21 10 2007
Iman Brotoseno

iya sama sama sugeng riyadi, sedoyo kalepatan, …

21 10 2007
cewektulen

selamat idul fitri, mohon maap lahir dan batin

21 10 2007
just Endang

Untuk semua teman, sekali lagi :
Selamat Lebaran, Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir Batin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: