Kidung Hati Opor Ayam

21 10 2007

Menjalani sebuah acara ritual tahunan nyatanya tak selalu sama. Tak mesti berurut dan bisa ditunggu aliran agendanya. Setidaknya, akan ada juga hentakan
yang membuat ritual-ritual itu tak sama lagi sebelum akhirnya menemukan kembali jalur irama yang mesti diikuti dan bisa dihafalkan. Hentakan itu bisa datang karena bedanya jaman yang datang atau mungkin oleh fase hidup yang dijalani manusia. Seperti aku.

Semasa kecilku dulu, selama kurang lebih seminggu sebelum Hari Raya Idul Fitri, aku bisa menjalani indahnya puasa dan tarawih di kampungku. Dengan teman-teman kecil sekitar rumah eyang yang hanya kutemui di hari-hari seperti itu, kudatangi Mesjid Besar Panglima Soedirman di Bengawan Solo. Malam dan Subuh. Lalu bermain kembang api. Dan kembali menanti siang berlalu dengan menemani ibu membuat kue kering yang kadang membuatku lupa bahwa puasa belum berlalu.

Beranjak lebih dewasa, dengan perbedaan kesibukan bapak ibu, tak selalu aku bisa merasakan tarawih di kampungku. Cukup bersama teman-teman sekompleks di musholla dekat rumah. Berjalan ramai-ramai, bercanda cekikikan sambil saling lirak lirik antara yang saling tertarik. Menjelang puasa berakhir, kadang sudah akan takbiran, baru bermobil menuju kampung Bapak di pertengahan Jawa dan lanjut ke Timur lagi kemudiannya. Sampai kakak-kakak makin dewasa dan peserta bermobil makin banyak dengan datangnya cewek-cewek yang ingin jadi kakakku juga. Dan Paklik almarhum tercinta memiliki ide brillian untuk selalu berkumpul seluruh keluarga besar mbah Kebumen saat Lebaran. Hingga satu persatu saudara Bapak berpulang dan tak ada cukup tenaga lagi untuk jauh-jauh menyalurkan rindu. Kini mereka hanya tinggal 3 gelintir saudara yang ingatan pun makin meluruh.

Kami semua lalu makin menyempit area komunitas kunjungannya. Tinggal keluarga besarku sendiri yang juga mulai memberi cucu-cucu kecil untuk Bapak Ibu. Masjid Panglima Soedirman di tanjakan Bengawan Solo makin tinggal kenangan bagiku, berganti masjid-masjid kecil yang mampu terjangkau dengan cepat karena hanya beberapa langkahan kaki. Yang terpenting bagaimana kami lalu berderet di muka lutut Bapak Ibu, dengan antrian yang makin panjang. Dan Rayi pasti menjadi peserta terakhir, meski ada yang lebih muda usia tapi mendapat tiket lebih awal karena urutan orangtuanya yang mendahuluiku. Lalu mereka tak akan menghabiskan waktu hingga malam karena harus mencium lutut atau tangan mertua masing-masing.

Aku, saat dulu masih bisa dihitung kesempatannya bisa mudik ke rumah mertua. Sindrom keluarga muda yang masih merangkak. Sekalinya kesempatan itu ada, karena memang kupaksakan datang bagai seorang pejuang berani mati menumpas masalah demi kedamaian hidup selanjutnya. Tak peduli bagaimana kemudian menangis sendiri di sisi tiang penyanggah Mesjid, merasakan luka-luka akibat keberani-matian itu. Tapi aku punya keyakinan, meraih momen atau tidak sama sekali. Hanya satu penghiburku, itu saatnya aku kembali berada di Mesjid Besar kampung halamanku itu dalam usia dewasa. Mengenang keindahan masa kecil selalu mampu menghapus luka. Karena selebihnya, kami selalu bersujud di tanah lapang belakang rumah mertua, meski jaraknya dari Mesjid Besar hanya sepelemparan batu.

Tahun-tahun kini, aku selalu tertinggal di belakang dalam urusan mencium lutut Bapak Ibu. Kesempatannya datang beberapa hari setelah Idul Fitri berlalu dan badan masih merindukan pijatan dan empuknya kasur hasil mudik ke kampung. Lalu aku harus berkeliling bagai tamu khusus yang dinantikan di Cibubur, Ciputat dan Bekasi. Di kampung, tak ada ketupat opor ayam dan sambel goreng hati buatan ibu. Katanya tradisi itu akan datang justru satu minggu setelah Idul Fitri berlalu. Tak semua berpakaian rapi siap menunaikan sholat Ied . Karena tak semua juga ber-Idul Fitri. Yang terlihat adalah ibu-ibu sibuk mencuci pakaian yang kotor dalam perjalanan mudik, memasak makanan memenuhi dapur 2,5 x 3 meter dengan 8 pasang tangan berseliweran. Muka berminyak belum mandi dan masih sibuk dengan bayi-bayinya. Tak ada lutut, yang penting hanya ucapan selamat dan cium pipi dan penghormatan. Lalu menghadapi makam-makam yang ada hingga petang.

Di setiap perubahan jamannya, di setiap perubahan fasenya, selalu dibutuhkan kelenturan. Masing-masingnya telah memberikan catatan tersendiri. Selalu ada yang hilang dan akan terus dirindukan. Tapi sebagai gantinya, tiap perubahan itu memberikan nikmat yang lain. Cinta yang lain untuk dinikmati. Dan tidak untuk diperbandingkan. Mungkin masih terselip kesempatan untuk sesekali sedikit mengubah agendanya, menukar-nukar mana atas dan bawah dalam urutan. Karena membagi cinta memang tidak mudah. Di dalamnya selalu tersembul ego dan kepentingan yang ingin menjadi pemuka agenda. Tinggal wajah mana yang saat itu berhadapan dengan hati yang pasti membiru. Dan agar Idul Fitri tak bercela noda yang tak perlu.


Aksi

Information

22 responses

21 10 2007
Hany

Ora iso mulih huhuhuhuhuu…… Yah, tapi alhamdulillah ijek iso ktemu opor ayam kupat rendang sambel goreng somay dll…

22 10 2007
-Fitri Mohan-

tinggal capeknya aja yang disembuhin. paling tidur sama ngobrol sama temen2. habis itu, back to normal. tapi ada yang bersemayam di hati. ada cerita sendiri. ada yang bilang ini sensasinya. :p

kalo gue pribadi, udah sekitar enem tahunan ini, lebaranku biasa aja. tapi tetep hepi.

22 10 2007
Iman Brotoseno

saya kok blenger dengan sambal goreng hati dan opor nih, kebanyakan he he

22 10 2007
Innuendo

nek, mesjid panglima sudirmannnya gak diphoto ? pengen liat neh…

aku dulu waktu kecil juga suka maen kembang api hehehe

22 10 2007
ichaAwe

aku dah tiga tahun gak pernah makan opor ayam..hiks sedih

22 10 2007
DenaDena

opor ayam saiki gak usah ngenteni lebaran hehehe. tapi beda kali ya makan opor pas lebaran soalnya rame2

22 10 2007
iway

saya sekarang lagi kena sindrom keluarga muda, males kemana-mana dengan alasan ada bayi hehehhe

22 10 2007
amethys

wah… kenangan masa kecil dan remaja, selalu mengasikkan…hehehe…dulu waktu masih remaja tiap puasa aku rajin ikut traweh keliling…cuci mata seh….:D
waaa….tiap lebaran aku pasti masak yg kaya di rumah ibu..biar ga homesick

22 10 2007
kenny

aku udah kangen sambel goreng atinya, tapi masih neg2 an ama opor kupat.

udah kelar belum cuciannya???

22 10 2007
danudoank

waktu terus bergulir… semoga idul fitri semakin tahun tidak kehilangan ruhnya ya bu, halah sok tahu sayah :d

22 10 2007
endang

*hany, sabaar….melu halal bi halal 31 aja yuuk…hehehe
*fitri, hepi sih kudu dan pasti hepi…tapi ada yg hilang gak?
*iman, jadi berapa hari makan itu terus mas?
*innuendo, wah..gak, lupa terus neh motretnya…asik ya main kembang api..
*icha, kok gak bikin sendiri? Beda sih yaa…
*dena, masakan apapun bisa ada kapanpun dan bisa rame2 terus, tapi kalo Lebaran mesti rasanya lain sih…
*iway, whahahah………curaaang !
*wieda, iya memang, di mertua jg pernah gitu…sebenernya sambel goreng itu ada, tapi kok tetep beda aja ya?
*kenny, eh untung lho di kampung nyicil nyuci, jadi disini gak terlalu banyak. setrikaan yg buaanyaak..
*danu, ah, mengerti juga maksud saya..

23 10 2007
Muhammad Mufti

Kita memang harus mengikuti perkembangan seiring perubahan yang terjadi dengan keluarga kita. Bahkan hal itu bisa jadi mengubah dan merombak kebiasaan yang sudah berjalan dalam kehidupan kita. Ternyata saya sendiri mengalami hal itu mbak, meskipun ada yang masih sama tetapi ada beberapa hal yang sudah berubah saat merayakan lebaran dan tak bisa dipertahankan.

23 10 2007
angin-berbisik

wah asyiknya yg baru merasakan mudik ke kampung halaman, 🙂
sambel goreng ati + opor ayam…itu maskotnya lebaran emang 😛

23 10 2007
isnuansa_maharani

lebaran kali ini di keluarga saya menunya serba Kambing, Mbak. nggak masak opor ayam lagi…

24 10 2007
venus

ah, lebaran selalu indah..mau dulu mau sekarang…

24 10 2007
mei

lebaran tahun ngarep…aku pasti balik =)..wes d wanti-wanti simbah soale hehe

24 10 2007
Iko

Tiada yang istimewa selain kebersamaan yaa mbak :)terlebih di hari besar kemarin…

Mohon maaf lahir & batin yaa mbak.

24 10 2007
Putirenobaiak

oalah udah komen dua kali gak masuk2 juga?

meski capek kan bahagia ndang, gak bisa dibeli uang yah 🙂

24 10 2007
ichal

uenak kumpul-kumpul euyy

25 10 2007
endang

*mufti, memang gitu ya mas…
*tia, iya…tapi kalo di kampung cuma sambel gorengnya thok…
*isnuansa, menu selingan?hehehe
*venus, indah sih memang….
*mei, nganggo dijewer gak?
*iko, sama2 iko….
*meiy, uangnya gak laku kalo gitu, kalah ama serunya…
*ichal, menyenangkan lhoo…

25 10 2007
Larasati

duh opor ayam sampai mblenger, ganti pengen bakso or soto

26 10 2007
Ely Meyer

lebaran pasti selalu ku usahakan masak opor ayam, biar kangennya hilang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: