Tentang Aminah Yang Kucinta….

30 10 2007
Bertemu dengan Aminah kembali, rasanya membuat nafas memburu, batin bergoncang dan dahi tak rapi lurus. Dia adalah perempuan dari masa lalu, masa kini, dan entah di masa mana lagi. Perempuan yang agak kolot dalam soal nilai dan peradaban perilaku sekaligus tak pernah mau ketinggalan kencangnya lari zaman meski serba sedikit. Perempuan yang banyak hidup dengan masa lalu namun senang sekali mengamati lalu waktu dengan segala konsekuensinya. Perpaduan yang melelahkan dan tak heran membuat dirinya menjadi sosok amat keras juga sering melankolis.

Aminah yang kukenal, pernah punya obsesi. Mau jadi perempuan mandiri dalam kematerian dengan tak keberatan keringat mengucur deras yang malah membanggakannya. Kematerian yang mampu membuatnya seakan menggendong seluruh tubuh berkepala dalam trahnya laksana kekuatan Werkudara. Itu karena lecutan sang ibu yang tak mampu wujudkan mimpinya sendiri dan menurunkannya hingga habis pada Aminah. Obsesi yang membuat Aminah pusing karena jalan hidupnya berkata lain. Oh, dia senang dengan hidupnya, jangan ragukan itu. Aminah cuma merasa punya hutang yang tak lunas.

Kegemarannya sebagai pengamat detik waktu dan polah tingkah, kegemarannya berbincang dengan generasi lebih lampau, berbuah manfaat. Aminah mampu mengangguk akhirnya ketika sadar hutangnya mungkin memang tidak untuk dilunasi. Dipajangnya surat hutang itu dalam dinding hati sebagai pengingat bagaimana cepatnya dulu dia melangkah dan berlari. Kini dia hanya berjalan, duduk dan menemani sang bibit dengan segala petuah dari referensinya sendiri.

Aminah pernah mengangguk. Begitukan? Untuk hutangnya tadi, yang tak lunas. Tapi selesaikah dengan anggukan? Kalau ini ditanyakan padanya, pasti dia ragu. Tidak sepenuhnya selesai dengan mengangguk, tapi setidaknya berhasil meredam goncangan emosi. Dia menerima. Bahkan ketika bersama burung, angin, atau daun yang terbang menyertai hari-harinya belakangan ini dan membawa pulang sesuatu di paruh, hembusan dan tapaknya. Tapi begitulah sifat sebuah hiasan pajangan. Selalu siap untuk ditatap, dinikmati sebgai penyegar suasana dan pengingat untuk tidak mudah luruh. Mungkin berguna di waktu nanti.

Aminah tertawa. Aku jadi ikut tertawa melihatnya begitu. Sebab ketika dia tertawa, semua jadi segar. Sebab bagi banyak orang dia memang sulit diterima. Dan dia tak mudah meski tak begitu sulit juga menerima orang. Sebab dia tertawa hanya jika merasa nyaman. Maka tawanya tak pernah basa basi. Jika ingin basa basi, dia pilih hanya tersenyum. Pasti, dia masih hutang. Pasti juga masih menyimpan dendam kemanusiaan ketika perempuan yang melahirkannya pernah tersakiti oleh mulut tak berguna. Makanya dia duduk di sini agar tak perlu melakukan yang tak perlu. Duduk saja yang bisa membuatnya frustrasi. Tapi hutang masa muda tadi, membuatnya tetap hidup dalam semangat dan bijaknya sendiri. Membuatnya tak perlu mati dulu. Membuatnya mencari jalan untuk tetap tertawa.

Aminah adalah kesayanganku, dan hanya aku yang mencintai dia…………..


Aksi

Information

17 responses

30 10 2007
de

sepertinya memang wanita yg pantas dicintai..

30 10 2007
Innuendo

kenalin donk nek ama aminah….

30 10 2007
venus

aminah…keren bu, yang ini….

30 10 2007
mata

iya jeung… kenalin sama aminah donk…
btw tokoh aminah ini nyata atau fiksi. tapi kalau nyata kok labelnya omong kosong. kalau fiksi kok kayak beneran ada…

30 10 2007
kenny

jadi mikir hutang gak selalu bikin frustasi ya

30 10 2007
amethys

sapa tuh aminah?…kenalin dunk

30 10 2007
isnuansa_maharani

“Kini dia hanya berjalan, duduk dan menemani sang bibit dengan segala petuah dari referensinya sendiri”

Setelah lelah jadi “werkudara”, sudah sepantasnya Aminah “pensiun”…

30 10 2007
pyuriko

Aminah, sosok perempuan yang luar biasa… Kekuatannya ada pada dirinya sendiri, utk tetap bertahan.

30 10 2007
Ely Meyer

aminah ada fotonya ? ^_^

meksake kalau memang benar hanya sampeyan yang meninctainya 😦

31 10 2007
angin-berbisik

barisan kata yang indah, menggambarkan sosok aminah sebagai sosok yang benar2 patut diteladani,tak heran mata saya pun ikut berkaca2 ketika membacanya…

31 10 2007
just Endang

*de, amin…
*innuendo, ntar ye….
*venus, ooh..aminah pake stylist skrg..hihihi
*mata, bingung ya Ta?
*kenny, hutang apa dulu…hhahaha
*wieda, kapan2 ya…hihihi
*isnuansa, aminah gak perlu pensiun krn jadi werkudara cuma impian
*iko, iya begitu kayaknya…mudah2an..
*ely, foto? jangan deh…dia gakpapa kok jeng meski cuma aku yg cinta…
*tia, bener tuh jeng? berkaca? OMG…

31 10 2007
aLe

Aminah si pembawa Amanah 😀
klo cowo siapa ya yg sprt Aminah..

1 11 2007
mei

sopo kui?? khok hanya dirimu yu yang mencintai???

2 11 2007
Muhammad Mufti

Kayaknya Aminah ini orang yang punya kesan tersendiri. Konco lawas yo mbak, apa malah sedulur?

2 11 2007
elly.s

oh aminah…!!!
pa kabar ndang?
sehat toh?

2 11 2007
-Fitri Mohan-

sinten niki bu? kulo mboten ngertosipun.

5 11 2007
endang

*ale, waduh…aku gak tau nih Le..
*mei, mungkin krn aku begitu mencintai dia mei…..jadi rasanya hanya aku yg cinta dia.
*mufti, ada deeeh……hehehe
*elly, kabarku baik Elly…
*fitri, someday kukenalkan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: