Bicara Lewat Hati

15 11 2007
Kadang kala dalam kepala ini bisa sama sekali tidak berisik. Tak ada percakapan-percakapn konyol yang terjadi dengan sendirinya tanpa dikehendaki. Tak ada angan yang berloncatan disana, mempermainkan masa lalu dan masa nanti. Tidak berimajinasi sama sekali. Aku seringkali kehilangan jika kepala ini tidak menerbitkan barisan kata dan gambar aneh yang bermunculan entah darimana. Tapi sebaliknya, hatiku menjadi terlalu vokal. Ya sudah, biarlah demikian.

Kupandangi jalan di muka teras rumahku. Segelas kopi tak menemani. Tak ada selera. Apakah aku berduka, rasanya tidak. Senang malah mengingat kenyataan berminggu-minggu ada cengkerama dengan masa lalu. Bahkan mungkin akan terus ada. Tapi dunia terus berputar dan selalu membawa kabar baru. Entah mengapa, kebanyakan tentang pertengkaran. Miris…..

Lalu ada perjumpaan dengan seorang kawan. Hanya perjumpaan kata-kata. Tapi kami menemukan irama yang sama dalam berlagu. Maka kata-katanya menjadi panjang dan sulit berhenti. Seolah ada kesepakatan, kami selalu menyelipkan kata ‘takut’ di sela-selanya. Mungkin lucu jadinya dan kami bisa terkikik sendiri. Sedangkan yang dibicarakan sama sekali tak mungkin ditertawakan. Kami takut tak ada lagi tata krama dalam perbendaharaan pola interaksi antar manusia. Kami takut manusia seperti kami ini menjadi terlalu pandai, lalu tak punya hati dan pertengkaran semakin menjamur. Bahkan kami takut tak pernah cukup waktu untuk menitipkan pesan-pesan pada anak-anak kami, tentang segala yang tak lagi menjadi trend di udara kini. Pesan-pesan kuno. Karena kebebasan kini terlalu menjadi dewa di dunia, dalam pandangan mata kecil ini. Ya dan tidak, semua ada alasannya.

Sebenarnya segala rasa takut itu tak perlu. Pasti banyak mulut yang akan mengucap itu. Entahlah, mungkin itu hanya bahasa kami yang mengartikan sebuah keprihatinan pada banyak hal dalam satu kata. Atau dalam nada tertentu, seusia kami bisa menjadi terlalu naif jika keidealan masih didambakan. Tidak..tidak juga….kami mengerti bahwa ideal itu sangat mewah. Kami hanya sedang mimpi tentang keindahan yang tak sekedar hasil pengabadian lensa.

Tak ada yang baru di depan mata. Hanya saja kesadaran kadang tertutup sehingga melupakan yang pernah ada. Atau yang dulu berlalu dibiarkan saja berlalu tanpa sedikitpun dimaknai, dan menjadi tertegun ketika melihat semuanya melintas kembali. Mungkin juga emosi telah memainkan simpul-simpul pemaknaan menjadi begitu berbeda. Semua alasan bisa diterima. Bahkan alasan kematangan usia. Tapi memang harus menemukan orang yang tepat untuk bisa diajak duduk dan memetakan semua persoalan secara gamblang.

Kata siapa, ada tempat untuk kebebasan mutlak. Omong Kosong. Mungkin memang lebih indah begini. Selalu ada batasan tanah untuk melangkah, bahkan udara yang boleh dihirup. Sehingga aku, hanya menunjuk aku saja, tak akan mengambil tanah atau udara yang bukan milikku. Dan sekarang aku memiliki kekasih-kekasih kecil yang baru belajar bernafas, baru belajar membuka mata dan bicara. Baiklah,… aku ingin berangan sebentar, ……

Jika kekasih kecilku itu melihatku sebagai sosok yang mudah mengangkat tangan dan menunjukkan jari. Tapi jari itu selalu mengarah pada lingkaran di udara luar, maka itu yang akan dia lakukan. Dia tak mungkin mengerti bagaimana membalikkan jari itu untuk kadang menuju ke dadanya sendiri. Atau mereka mungkin tak pernah mendengar kata sayang di telinganya, maka lidahnya juga tak akan belajar mengeja. Matanya mungkin mampu mengedarkan pandangan ke berbagai penjuru. Tapi yang aku tahu, dariku dan sang ayahlah dia belajar memandang untuk pertama kali dan setiap kali. Maka kami harus mengerti benar bagaimana cara memandang itu yang sesungguhnya.

Kepala ini tak berangan lagi. Hati berjalan mendahului. Ada keyakinan-keyakinan dalam genggaman. Keyakinan yang kadang berbeda dengan yang ada di genggaman yang lain. Tapi apapun itu, tak selayaknya saling meniadakan. Nafas ini terlalu pendek jika sebagiannya terfungsikan untuk meniadakan yang lain. Tak berguna…..melelahkan…..

Ah teman…….sekarang aku ingin segelas kopi.


Aksi

Information

29 responses

15 11 2007
dian

labelnya apa ? oh omong kosong hehhhe

otakku lagi kosong. ntar aja ah komen lagi

15 11 2007
-Fitri Mohan-

ayo ngopiiii.

15 11 2007
NN

Aduh, kapan aku bisa nulis seindah ini, dimana emosi kita ikut dimainkan , naik turun helayan nafas, bagus banget

15 11 2007
mei

the point adalah tata krama tetap diperlukan dimanapun kita berada khan mbak??

ketakutan??hmm aku sedang merasa demikian, bahkan dalam dunia yang terlihat sekotak ini =(

15 11 2007
isnuansa

kayaknya saya tau ide postingan ini muncul dari mana. saya baca jejak Mbak Endang di blog teman yang ngajak ngopi juga…

*bener nggak ya kira-kira*

15 11 2007
amethys

ngupiii yuk…..(nggal make “l” belakangnya…
mau dunk secangkir kopi..(sesekali ngupi enak juga yah)

15 11 2007
cewektulen

aura tulisannya sedih….

15 11 2007
Anang

yukk ngopi..

15 11 2007
kenny

waduh telat, kopiku dah abis baru bca postinganmu….lha kog malah komen e ttg ngopi :))

piye radar’e?? ngakak aku Ndang

16 11 2007
Ely Meyer

kalau nge”teh” piye jeng? enak juga lho diserutp panas2 di musim hujan ^_^

16 11 2007
Hedi

tapi beruntunglah sampeyan, karena dalam kesesakan spt itu masih bisa dan berusaha mencari solusi lewat kopi 😀

16 11 2007
JaF

Temenmu kayaknya kelewat penakut Ndang.. 🙂

*nyeruput kopi dengan tatapan kosong*

16 11 2007
CempLuk

ngopi??ayo deh..traktiran y mbak ?? :p

16 11 2007
endang

*dian, ya elo beresin dulu gih masalah lo..
*FM, ayo….eh, ramuan semalam gimana kabarnya?
*nn, wah mas…jadi malu. thanks anyway
*mei, gak usah takut harusnya…asal tau batas…
*isnuansa, eh…hehehhe…….
*wieda, iseng aja dikau ini Wied…
*senja, prihatin…
*anang, ayo Nang…
*kenny, bikin lagi kopinya…buat temen ngetawain radar..
*ely, aku ngopi eli ngeteh gitu lho…
*hedi, bukan solusi tapi pereda kesesakan…
*jaf, woi…udah ditemenin msh kosong jugs tuh tatapan…
*cempluk, kopi thok sih okelaaaah…..

16 11 2007
Evi

ngopi mba…? enak nih pagi-pagi sambil makan roti gambang. sip! slurup….nikmat.

16 11 2007
DenaDena

susah memang jadi orang tua. ngasih contohnya itu lho. beraaaattt

16 11 2007
tata

Oh jadi ini toh sebab kemaren bilang2 mo minum kopi ?? hihihi

16 11 2007
ichal

ahhh mbak, sedikit beda, kalo aku memandang teras kurang bebas, krn cum punya teras seluas 2 langkah kaki, itu pun ditumbuhin daun kunyit sama lengkuas yg ditanam emak!!!

yuuuk mari ngopi!!

17 11 2007
Muhammad Mufti

Kemarin temanku bawakan kopi dari lampung, tapi sayangnya aku gak senang ngopi. Ayo siapa mau…

17 11 2007
aLe

aLe ahir2 ini jadi seneng ngopi neh, ketulran ama temen sekamar, tp ya gt deh, senengannya nescafe classic, klo selain itu gak terlalu
tp tolong jangan manis2 ya, gulanya dikit aja *hehe, kaya pesen di warung kopi aja* 😛

17 11 2007
ichaAwe

plok…plok..plok…tarek maaang…ngopi yuk!!!!

17 11 2007
GusKoko

Ini bercerita yang ada dibenak khan ? Tapi digambarkan dengan gaya bahasa yang sedikit “tersamar”, supaya tidak terlalu vulgar.
Dan akhirnya secangkir kopi lah obatnya.

17 11 2007
pyuriko

Kabar tentang pertengkaran, kabar itu bukan dr Iko kan mbak??? 😀

Mari mbak, ku temanin minum kopi ^_^

17 11 2007
just Endang

*evi, wah….enaknya yaaaa..
*dena, makanya…..jadi takut kan…alah, takut lagi..
*tata, mo ikutan gak loe?
*ichal, terasku juga kecil kok uda…tapi enak aja ngopinya…yuk !
*mufti, kirim sini aja mas…*celamitan*
*ale, ah kamu ini…aku mesen juga dong..
*ichaawe, hahahah…..singkongnya mana?
*guskoko, mgkn lbh baik begitu mas…
*iko, hahahha…..tinju ya Ko? nggaklah…kita mah ngopinya aja..

17 11 2007
DeLaKeke

Mau gelas kecil apa gede…?hehehe

19 11 2007
venus

ada yg berantem apa gimana? siapa yg takut? apa yg ditakuti? hwadooohhh..maap ini pembacamu yg satu ini memang rewel. ayo ndang kita ngopi lagi 😀

19 11 2007
Mama Rafi

waduh mbak otakku lg nge-hang neh blum bs konsen bc postingannya, btw aku dah brenti minum kopi jd kyknya kalo ngajak minum bareng aku pesen teh aja ato susu biar sehat hehe…

19 11 2007
GHATEL

Tulisan yang bagus….dapat memainkan perasaan pembacanya…

20 11 2007
just Endang

*delakeke,gelas apa aja..hajar bleh ! hehehe
*venus, halah…berantem blog itu lho…eh, enak ya kafe baru itu?
*mama rafi, minuman boleh pilih kok…heheheh
*ghatel….ah…saya gak bermaksud memainkan perasaan situ lho..heheheh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: