Masa Nanti Dalam Pintaku

3 12 2007


Memandang pada kelelapan mata-mata kecil yang nyenyak di hamparan. Tenang….tanpa merasakan beban menggantung. Mereka hanya melemaskan segala otot lelah dan memuaskan kantuk yang menggelayut. Mungkin sekali saat memejamkan mata , tak dipikirkan benar bila waktunya mereka harus menyudahi kelelapan itu dan kembali pada mesin waktu yang terus berputar minta diisi dengan makna.Mereka kekasih-kekasih kecil, yang seringkali tak sadar dengan makna yang diminta sang waktu. Tapi mungkin juga begitu yang ada pada sifat hampir semua kanak-kanak di bumi.

Ibunya, dengan keibuan yang terbatas, hanya duduk memandang. Sesekali mengusap, entah lembut atau tidak. Yang pasti maksudnya pasti membelai penuh kasih, karena lalu dahi-dahi mereka menerima kecup hangat dari rindu yang tak pernah akan hilang. Semuanya diiringi sebuah memori tentang bagaimana dulu kekasih-kekasih kecil itu pertama terdekap dalam pangkuan. Menggali ingatan tentang rasa sakit yang konon pernah ada saat melahirkan mereka ke dunia…..sudah tak mampu lagi diingat bagaimana rasanya. Dan tentang malam-malam yang harus terjaga untuk sekedar mengganti lampin basah atau mencari tahu rasa haus dalam tidur bibir mungil.

“ Gusti, masa nanti seperti apa yang Engkau janjikan bagi para kekasih kecil itu, hanyalah milikMu. Tapi jika boleh ku meminta, janjikanlah pada mereka kehidupan yang cukup baik bagi iman dan harta mereka “

Ibu itu tak pernah mengerti doa yang benar dan sempurna seperti apa yang harusnya ia panjatkan. Karena ia punya banyak angan tentang masa nanti dan kesulitan untuk merangkainya dalam kalimat sederhana. Karena ia takut menjadi terlalu bawel pada Gustinya, sedangkan banyak ibu lain yang juga meminta. Karena ia juga yakin, Gustinya lebih tahu apa yang tersimpan dalam kepala dan hatinya.

Ibu para kekasih kecil yang sangat terbatas keibuannya. Ia tahu lidah sang buah hati ingin masakan yang lebih nikmat dari yang diterimanya dalam paket menu sekolah. Tapi dibiarkannya dengan jawaban, “ yang penting makanan itu bersih dan sehat, dan belajarlah menerima kekurangan”. Kadang kaki-kaki kecil itu sudah berlari mengikuti derap langkah sang kawan, diserukan lagi oleh ibunya nama mereka. Hanya oleh sebab handuk-handuk yang tergeletak tak bertuan di atas pembaringan. “ Apa yang harus dilakukan pada handuk-handuk itu ? “ Ia ingin seperti ibu lain yang begitu memuliakan dan melayani sang kekasih, tapi terlintas dalam benaknya apa yang dia pertaruhkan untuk masa nanti mereka.

Tak sekalipun hatinya merasa sangat benar untuk yang selalu dilakukan pada kekasih-kekasih kecil itu. Untuk hati mereka yang mungkin mengeluh diam-diam. Untuk cibiran orang yang menyebutnya tak berkeibuan. Ia memang terbatas keibuannya. Tapi ia juga selalu bertanya sendiri, adakah ia salah dengan segala rencananya? Dalam ketaksempurnaan lakunya sebagai ibu, ia tengah mendekap. Membelai pucuk kepala. Mengecup dahi. Bercerita tentang sebuah dunia yang tak selalu ramah. Bercerita tentang laku yang seharusnya sebagai seorang manusia. Tentang rasa hormat pada yang lain. Tentang proses menerima yang tak dimaui. Tentang segala yang sempat dia piker harus dikatakan. Dan ia masih memangku sayang meski yang berada dalam pangkuan telah panjang kakinya. Dan mereka tak juga ingin beranjak pergi.

Telah ada satu dua helai warna putih di puncak kepalanya. Mungkin perjalanannya masih jauh separuh hari lagi. Mungkin juga sudah dekat, tak tahu pasti. Juga tak tahu tentang tanah lapang masa nanti kekasih-kekasih kecilnya. Tapi riak harap tak akan mati untuk mereka.


Aksi

Information

25 responses

3 12 2007
mei

Malih kangen Ningrum..hiks

Aku juga cenderung galak dalam mendidik adek. Adakalanya saat ngelonin dia timbul perasaan menyesal, tapi aku pikir itu juga demi dia nantinya…=(

btw layout baru ya mbak??keren euyy..adem banget

3 12 2007
DenaDena

aku sing paling sering teriak2 kalo mereka mulai berulah, padahal mbok e yo gak bener2 amat. malah akehan salahe drpd benernya. maafkan mama ya nak (duuuuh kapan tobate aku ikiiiii)

3 12 2007
angin-berbisik

wah, persis seperti yg kurasakan kepada anakku….

3 12 2007
mercuryfalling

hah ? udah ada dua helai, nek ? hihihihi….

3 12 2007
Evi

aku juga seneng kalo liat nasywa lagi tidur, bisa tak ciumi smp matanya melek. hehehe…jahat ya? abis gemes sih… 😀

tapi kalo lagi keluar bandelnya, biasa mboke teriak-teriak ga karuan, yang ada nasywa langsung datang dan bilang, “dalem Nda…ntil(sentil)ya?” aduh…nih anak.

3 12 2007
Putirenobaiak

ah adem banget, ya keibuanmu ya layout baru.

kadang kita terpaksa ‘galak’ utk tegas walau berasa jahat ya ndang…

3 12 2007
-Fitri Mohan-

kalau seorang ibu memiliki harap dan melantunkan doa, pastilah itu keinginan untuk anak2nya mendapatkan yang terbaik.

kadang2 aku suka membayangkan bagaimana tuhan menerima dan mendengar jutaan doa2 dari mereka para ibu. kurasa tuhan sudah trenyuh dan terharu dari sejak sebelum doa itu sampai kepadanya…

semoga harapan2mu didengar dan dikabulkanNya.

4 12 2007
kenny

liburan sekolah ini tambah uban 1 tapi kog rasanya laennnn, jadi bangga gitu :D, gak tak cabut

4 12 2007
ichaAwe

wah aku sih seumur idup..belom pernah ngliat gimana galak dan bawelnya seorang ibu sama anak2…setelah ngeliat mertua ku..suwer dehhh galak bangeeetttt..tatuuuttt…

so ..kesimpulannya..jgn tralu streng lah ma anak2…kasian…

4 12 2007
isnuansa

Membekali anak dengan kedisiplinan perlu, Mbak. Saya juga paling sering “menegur” adik yang selalu meninggalkan begitu saja anduk basah di atas tempat tidur. Atau sepatu sepulang sekolah masih tetap di depan pintu.

Sttt, setelah lihat foto yang ini, jari rasanya gemes menekan keyboard untuk bilang: Mbak, anakmu yang gede guanteng banget, hahaha…

5 12 2007
Ely Meyer

gatal ndak rambut putihnya? ^_^

fotone apik Jeng !

5 12 2007
Muhammad Mufti

Lebih sering ibu yang bawel daripada bapak. Kenapa ya?

Rambut putih itu kalo ketahuan sang kekasih kecil bisa dicabutin lho mbak…

5 12 2007
aLe

akankah suatu saat juga kurasakan ‘rasa’ yg seperti itu juga. mungkin itu indahnya hidup.

5 12 2007
just Endang

*mei, galak itu mesti dlm tanda kutip..
*dena, hehehehe…..pake TOA ndak?
*tia, pada tiap ibu ya jeng…
*dian, ah kau ini….
*evi, tau kalo salah ya?
*meiy, iya itu bu….padahal yg tau perasaan kita ya cuma kita..
*fitri, begitulah yg kupikir ttg Tuhan itu…makasih neng..
*kenny, aku jg gak tak cabut…ben podho sama uban…
*ichaawe, tgantung ngeliatnya kali….
*isnuansa, wheheheheh……mirip aku ndak?
*ely, nggak gatal tuh…mgkn rambut rusak aja…
*mufti, bapaknya udah capek kerja kali mas….anakku gak pernah nyabutin rambut putih lo…
*ale, insyaallah…….

5 12 2007
papapam traffic

Marah pada saat yg tepat dengan alasan dan cara yang benar dapat membangkitkan kesadaran. Sebaliknya Marah akan menyakitkan dan menimbulkan dendam bila tidak pada tempat dan waktunya.

5 12 2007
amethys

kata ibuku, setiap ucap yg keluar dari bibir seorang ibu adalah doa bagi anak2 nya…jadi jangan sampai bilang klo “nakal, bandel” dll yg jelek2….

he he aku ga punya anak, tapi sekarang ubanku udah banyak…..he he alami..makin tua makin berubah..

5 12 2007
Ely Meyer

Btw … kalau liat foto di atas dadi kelingan foto cover majalah ^_^

5 12 2007
iway

saya belum nyiapin apapun buat si kecil nanti, ah biarlah terjadi apa yang seharusnya terjadi, kebanyakan persiapan suka meleset euyy 🙂

6 12 2007
dibuang sayang

“Tapi riak harap tak akan mati untuk mereka.”baluran doa ibu buat sang buah hati bagaikan matahari yang tak hentinya menyinari dunia. ah, ibu memang segalanya ya bu 🙂

6 12 2007
elly.s

hmh..maafin bunda ya nak..
bunda juga suka galak n nyuruh kamu belajaaaar terus…
Habis utk apalgi kalo bukan supaya kamu pinter…
Hiks…jangan lupa pada penciptamu dan bersyukur pada ayahmu yg selalu bekerja keras utk hidup kita…
walaaahhh…untung ada ujung taplak utk ngelap ingus…

6 12 2007
endangpurwani

*ipam, jelas pak…
*wieda, ubanku bukan krn anak pasti..
*ely, itu photobox itu lho…
*iway, aku jg blm kok….
*danu, begitulah keliatannya…
*elly, eh…taplak …hihihi, kamu tuh ada2 aja…..

7 12 2007
NN

Aduh asiknya menjadi orang tua, jadi pingin cepet-cepet nikah

7 12 2007
Totok Sugianto

tidak ada ceritanya bekas ibu atau bekas anak, karena cinta kasih orang tua sepanjang jalan. jadi teringat ibu saya lagi 😀

7 12 2007
kevinputra

Hi Mba Endang,thanks sudah mampir di Blog ku..wah hebat ternyata Mba Endang penari juga ya..
Anak membuat kita banyak belajar diri kita sendiri dan kita akan buat seperti apa, tetapi anak tetap ada jalannya sendiri.
Sukses ya Mba…

10 12 2007
ichal

udah rada telat sii, tapi masih sempat mbaca yg ini mbak!! tengkiuuu atas taman bacaannya!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: