Rasakan Aku Untuk Sesaat………….

1 02 2008
Coba dengarkan aku. Aku seorang ibu dengan anak perempuan. Kamu pasti mengerti, bagaimana kupandang-pandang anak perempuanku . Bagai intan yang kilaunya akan selalu menerangi jiwa dan sudut-sudut gelap hatiku.

Kusisir rambut panjangnya dengan kasih, kuberi jepit pemanis. Kupupuri wajah lembutnya tipis-tipis agar tak kusam. Kuajak dia berkaca dan tunjukkan betapa cantik dia. Bagiku.
Kupangku dia di bangku tua muka rumah sambil bercerita. Konon nduk sayangku, seorang perempuan akan selalu diperhatikan kecantikannya. Rambut, kulit, alis, tangan, perut hingga betis dan kuku jari kaki. Sedikit saja dia lalai membelai tubuh dan wajahnya, setiap mata hanya melihatnya sebagai salah satu benda pengisi bumi.

Dan segala tentang kecantikan perempuan, kuisikan dalam kepalanya. Kuceritakan padamu nduk, bahwa perempuan adalah pelabuhan seorang lelaki. Di pelukanmu bisa kau temui segala keluhnya, penatnya, kasih dan cintanya, juga bukan tak mungkin bisa-bisa yang mematikan otak segarmu. Rasakan dengan nurani apa yang kau terima dari lelakimu.

Itu sudah berpuluh tahun berlalu. Anak perempuan tumbuh makin cantik akhirnya.

Aku melihat terus apa yang dia lalui. Tidak secara kasat mata setiap saat, kebanyakan hanya insting. Lalu dia dapatkan lelakinya. Tampan, wibawa, bersedia membahagiakan dan hormat padaku. Tapi dia sedang dimiliki perempuan lain.

Apakah kau tahu rasa hatiku?

Anak perempuanku, dia sudah dewasa. Pikirannya tak bisa selalu kumasuki semudah dulu dalam pangkuan. Dia punya arti cinta sendiri. Dia punya arti bahagianya sendiri.

Kulemparkan ingatan pada masa-masa itu. Pernahkah aku bicara tentang sebuah pagar ayu padanya? Pernahkah aku bicara tentang lelaki mana yang boleh menyentuh keperempuanannya? Pernahkah aku bicara tentang hati perempuan lain?

Tak bisa kutarik waktu untuk memastikan aku tidak melewatkan apapun yang perlu kuceritakan. Aku harus memilih dengan hati tuaku, apa yang boleh kulakukan kini padanya. Ketika dia sudah mampu menentukan. Ketika dia menentukan tanpa ingin aku ada bersamanya.

Anak perempuanku cantik sekali. Tapi semua mata tak kagum padanya. Tapi hatinya didera banyak cacian orang. Tapi dia seolah tak berharga untuk dipandang dengan penuh kedua mata. Tapi dia tak menjadi intan berkilau, hanya dipandang sebagai kotoran.
Apa kau tahu rasa hatiku?

Beritahu aku, dimana aku harus berdiri sekarang.
Beritahu aku, apa jawaban terbaik yang harus kuberi untuk semua pertanyaan yang datang.
Beritahu aku, seberapa tinggi aku boleh mengangkat wajahku sekarang.
Kamu, …..beritahu aku, apa yang akan kau lakukan jika kamu berdiri di tempatku.

Apakah kamu tahu rasa hatiku, seorang ibu………


Aksi

Information

26 responses

1 02 2008
Evi

itulah resiko punya anak perempuan.
aku dulu cita2 pengin punya anak lelaki tp apa daya dikasihnya perempuan, tapi….tingkahnya macam anak lelaki 😦

1 02 2008
-Fitri Mohan-

dalem bow, as usual.

perempuan itu salah satu ciptaan ilahi yang (katanya) kompleks. kalau mau simpel-simpelan, jika ada anak perempuan yang berlaku spt yang diceritakan di atas, ya wajib dikasitau. simpelnya: kamu salah nduk, hentikan yaaa.

versi kompleksnya? baca novel “ayu dan edward” ya. hahahahahaha.

1 02 2008
dianna

aku pribadi ntar pengennya punya anak perempuan tapi emamg was2 sih lihat anak2 abg sekarang,cuma tetep aja pengen anak perempuan biar ada tempat tuk berbagi kaya nana ma ibu.

1 02 2008
Iko

Hatinya pasti sedih yaa mbak, melihat anak perempuannya diperlakukan tidak baik. Tetapi anak perempuannya bukanlah anak perempuan kecil lagi, kini dia sudah dewasa, dan apa yang dilakukannya mungkin sudah menjadi tanggung jawab sebagai pribadi perempuan dewasa.

1 02 2008
Anang

wah kaya tertusuk sembilu ya jeng rasanya… sabar ya.. yang dicaci itu belum tentu lebih hina dari yang mencaci….

1 02 2008
mei

bila aku adalah ibu…

aku akan bilang bahwa yang dia lakuakn adalah salah, tapi dilain pihak aku akan tetap mensupport dia tanpa menghakimi pilihan apapun yang nantinya akan di ambil, karena betul kata iko..anak perempuan itu sudah bukan anak anak lagi. dia wanita dewasa yang sudah mengerti akan cinta dan tau akan tanggung jawab serta hal hal apa yang akan terjadi dalam pilihan pilihan hidupnya

1 02 2008
T O N I C K

Coba dengarkan aku. Aku seorang ibu dengan anak perempuan. Kamu pasti mengerti, bagaimana kupandang-pandang anak perempuanku . Bagai intan yang kilaunya akan selalu menerangi jiwa dan sudut-sudut gelap hatiku.

Mbak, aku senang dengan kalimat itu ..aku seorang Ayah dari anak perempuanku yang masih 3.5 tahun …dan aku juga merasakan apa yang mbak rasakan. mungkin memang agak terlambat, tapi aku yakin seorang ibu pasti bisa memberi solusi dan support kepada sang Intan

1 02 2008
ebeSS

Beritahu aku, dimana aku harus berdiri sekarang
lha lek onok ya sing isa cekelan cagak . . .
tapi iki jan iming2 aku gak duwe anak wedok . . . . lek oleh tak pek’e ae ya . . . . 😉

1 02 2008
elyswelt

baca cerita di atas kok aku langsung teringat Bu Larasatun ya (kalau nggak salah tulis) itu lho ibunya penyanyi mayangsari, yang katanya istri kedua bambang trihatmojo

1 02 2008
Si Jagoan Makan

Mbak Endang, aku jadi ingat almarhum Ibuku. *mberebes mili

2 02 2008
mercuryfalling

kalau ini tentang ibu yg di purwokerto itu, sebenarnya dia dulu juga dimadu. 5 apa 6 malah

sekarang anaknya yg dimadu eh udah gak lagi ya. horrreeee gue menaaannnggg….gitu kali yak teriak mayang. eh tapi anaknya perempuan juga nih…

3 02 2008
A'Unk~en~Lxmw

kalo ku punya 2 adik perempuan
ibuku udah 11 taun meninggal
kalo ayah kayaknya kurang berbakat menjadi ortu yg baik
jadi beberapa taun ini secara psikologis ku yg berperan sebagai ayah sekaligus ibu
alhamdulillah ku gak otoriter terhadap mereka
ku selalu bersedia dengarin isi hati & pikiran mereka
tiap ada masalah selalu kami musyawarahkan
kalo kasih nasihat, ku gak mau sampe marah
jadi adik2 selalu patuh padaku

3 02 2008
bebex

seorang ibu terkadang tidak mau untuk terus terang kepada anaknya?
apakah itu aneh?

3 02 2008
tata

belom bisa kasih komen hiks…gw lagi sakit mbak….

4 02 2008
GusKoko

Memang anak perempuan mudah “tergores”, tapi goresan itu bisa hilang jika kita mau dan mampu memolesnya lagi.

4 02 2008
iway

dan punya anak laki-laki juga harus dikasih tau apa itu pagar ayu, meski aib tak berbekas di badan namun bekas di hati lebih tahan lama sakitnya 😀

4 02 2008
stey

biarpun beresiko besar..saya kok tetep pengen punya anak perempuan ya?

4 02 2008
Anonymous

seorang ibu pasti nganggep anaknya cantik ya Jeng… mamaku juga gitu kayanya, hihi..

namun memang belum semua ibu bisa memberikan pendidikan sex pada anak perempuannya sejak dini. masih ada rasa “malu” untuk membahas secara terbuka.

saya sendiri sampai sekarang belum memimpikan punya anak perempuan. pengennya punya 4 orang anak laki-laki semua, hahaha…

*eh, bukannya anak dua-duanya laki Jeng?*

Nunik

5 02 2008
Dody KL

Dalam….

rasa kekwatiran bukan hanya ,ilik seorang ibu. gw sebagai kakak juga merasa kok…
gw punya 2 ade cewek yg klo lg ke mana seisi rumah pada kwatir…
syukur, sampe skrg g kenapa2…

5 02 2008
amethys

piye yoh…ya sedih klo gitu itu….

5 02 2008
ichal

menengadahkan kepala bukan berarti kita pongah!! ketika berdoa itu perlu kita lakukan!!

iya gak mbak??

5 02 2008
Putirenobaiak

sepertinya sebuah empati thd seseorang? keren cara nulisnya jeng 🙂

5 02 2008
danudoank

dulu saya pikir bakal dpt anak perempuan nyatanya yang dikasih laki2, alhamdulillah. laki atau perempuan sama saja, ah tentu tidak. yg sama adl dua2nya titipan allah swt. halah sok tau yak sayah

5 02 2008
harapandiri

Sebuah Pagar dibuat untuk melindungi sesuatu apapun bentuknya itu, begitu juga sebuah perkawinan, apapun alasannya seseorang tidak di perkenankan masuk pagar orang lain tanpa ijin, dan sebagai orang tua ketika memiliki anak yang menerobos pagar orang sudah seharusnya memberi penjelasan bahwa apa yg dilakukan anaknya tersebut adalah hal yang salah. lepas anaknya mau menuruti perkataannya atau tidak. karena orang tua mana pun tidak ada yg ingin pagar anaknya di terobos orang lain.

5 02 2008
harapandiri

mbak akhirnya setelah menunggu beberapa minggu bisa juga aku komen disini, ternyata kik open id

6 02 2008
endang

*evi, ya disyukuri aja kan…..
*fm, toosssss……..sampai mana tuh novel?
*dianna, punya anak laki sama was2nya…
*iko,tp tidak menghilangkan apa yg sebenarnya dirasakan si ibu….
*anang, ini bukan aku kok…empati aja.
*mei,itu yg dilakukan….bagaimana yg dia rasakan?
*tonick, tapi ini hanya empatiku, mas….
*ebes, podho sakjane….anakku yo lanang kabeh
*ely, benar Ely…..
*la mendol, empatiku buatmu mbak…
*dian, anaknya mah madunya….
*a’unk, kakak yg bijaksana…..
*bebex, tergantung bagaimana masalahnya…..
*tata, lha ini komen juga….
*guskoko, ada yg gakbisa dipoles lhoooo
*iway, benaaarrrrr……..
*stey, aku jg pengen…..tp adanya laki ya tetep senang juga…
*nunik, iya…ini kan empati jeng…
*dody, kekhawatiran ibu dan kakak itu beda, lho…
*wieda, he eh…..
*ichal, iya sih….
*meiy, benar ini empati…makasih bu….
*danu, itu sama dgn saya lho..
*landy, praktisnya bisa begitu…tp bisakah kamu merasakan perasaan ibu yg begitu kompleks? tidak semudah itu, dik Landy…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: