Bicara “Ora Ilok” Dengan Aminah

19 03 2008

” Ora ilok ngono kuwi…..gak ilok koyok ngono iku…”

Apa itu? Yah……kata-kata itu seringkali terdengar dalam masa nafas yang lalu. Jauh ke belakang, tempat dimana hari-hari yang kini ada dirintis. Kalau kosa katanya tak tercatat dalam kamus besarmu, maka bisa kubisikkan saja bahwa itu berarti tidak baik seperti itu atau pamali. Maka, jika kalimat itu sudah mengudara, sebaiknya tak lagi dilakukan hal-hal yang akan memicu petuah berhamburan.

Ah ya…..aku bicara saja dengan Aminah, temanku yang telah lama tak kubicarakan. Mungkin dia lebih menguasai khasanah per- ora  ilok -an itu.

Begini, kata Aminah, sekali waktu kamu ingin menghirup nafas segar yang rasanya hanya ada di sebuah ambang pintu. Tentu apa yang dirangkai oleh keinginan menghirup nafas segar itu adalah kegiatan duduk, memeluk lutut mungkin, lalu sambil melihat lalu lalang meski hanya debu dan diiringi sejumlah lalu lintas cerita. Bisa terjadi memang, semua itu dilakukan seorang diri, yang artinya tentu jadi melamun melanglang jagad tak tentu arah dan berimajinasi apa saja. Maka apa yang terjadi saat itu jika lalu tertangkap sinar mata mereka yang lanjut usia, akan menerbitkan kalimat andalan tanpa penjelasan.

Memang, selalu tanpa penjelasan. Pernah kukatakan pada Aminah bahwa aku mempertanyakan sekali saja alasan ora ilok itu. Yang kusimpan hingga bertahun kemudian adalah pandangan tajam dan seolah aku telah mempertanyakan sebuah benda kepastian yang menjadi milik Gusti secara mutlak. Menjadi aib bagi seorang makhluk kecil mempertanyakan nasehat orangtua.

Aminah tersenyum. Dia memandang lurus, sebelum mengatakan, bahwa seharusnya memang aku telan saja kata-kata itu. Tidak akan rugi buatku menelan bulat-bulat wejangan itu, selain kehilangan kesenangan kecil semata untukmelakukan apa yang menjadi keinginanku saat itu. Sewaktu lalu usia makin merambat naik, banyak pemahaman baru memasuki celah pemikiran dan logika menemukan jalannya. Ambang pintu itu, adalah tempatnya lalu lalang siapa saja yang ingin lintas ruangan. Kemungkinan yang bisa terjadi jika aku duduk disana adalah aku terinjak, tertendang atau mungkin orang itu sendiri yang urung melintas dan lalu memberi perasaan bersalah telah mengganggu kepentingan orang lain untuk sekedar melangkah. Atau, aku mungkin akan membutuhkan sentuhan koin gobang dan balsam untuk mengusir angin penghuni ambang pintu yang merasuk ke tubuh karena tempatnya telah kujajah sedemikian rupa. Aminah tersenyum lagi dan berkata, ” kamu menemukan kebaikannya buatmu”.

Lalu kenapa logika itu tak diberikan lebih awal ketika aku bertanya? Ah ya……bodoh sekali. Jamanku dan Aminah kecil , semua nasehat kebanyakan adalah warisan. Apa yang ibu kami katakan, mungkin begitu juga yang beliau dapatkan sewaktu mereka kecil dulu dulu dan dulu sekali. Tak ada keinginan mengaransemen ulang nadanya agar terdengar lebih indah di telinga kami. Tak ada modifikasi. Semua diberikan dengan nada dasar yang sama, dipertahankan harmoninya dan caranya mungkin juga sudah dalam setelan default.

Dan bukan cuma tentang duduk di ambang pintu. Tapi ada banyak jenisnya, seperti menyapu harus selesai hingga masuk pengki agar suamiku tak brewok, habiskan makanan atau ayam tetangga mati dan dewi sri menangis, atau perempuan tak bersiul dan memasak tak sambil berkacak pinggang. ” Aminah. Aminah……..kita temukan nalarnya di usia kita yang sekarang ya “. Kami tertawa kecil, tapi cukup panjang sebelum melihat kekasih-kekasih kecil kami berlarian di sekitar.

Aku menerawang berdua dengannya melihat kaki-kaki kecil berlari. Satu tak ikut berlari, sibuk menelusuri jaring pertemanan dunia maya. Dunia ini bukan satu-satunya lagi, hingga ada yang kami sebut sebagai maya. Yang katanya maya ini, mampu membawa siapapun menghubungkan yang nyata disini dengan nyata lain di entah mana. Dan kemampuan menyelusupkan benak di alam maya itu mempunyai tuntutan nalar yang tak mungkin lagi diminta menelan semuanya secara bulat dan mentah.

Kami berpandangan. Menyadari sesuatu dan akhirnya kukatakan,” aku tak pernah memakai plot seperti yang dulu kuterima. Ora ilok itu tak pernah didengar anakku dari mulutku “. Aminah mengerti. ” Tapi nilai-nilainya tetap perlu disampaikan, Minah….” Lagi Aminah mengangguk.

Memang, bukan keberadaan yang maya yang meniadakan ora ilok dengan sadar dari khasanah percakapanku dengan kekasih-kekasih kecil itu.  Semata, hanya alam bawah sadarku yang menolak untuk dipandangi dengan heran oleh mereka ketika sebuah  alasan tak mampu kuberikan. Alasan yang kutahu dengan benar logikanya. Alasan yang ketika kuutarakan sebagai jawaban pertanyaan mereka, akan langsung membuat kata ora ilok itu tak relevan lagi dan seharusnya hanya menjadi tak baik.

Ketika Aminah berujar kemudian,” kamu tahu……ketika kamu berikan  nasehatmu dengan bahasa yang bisa mereka terima dengan logikanya, kamu sudah menghilangkan kesempatan mereka untuk mendapatkan jawabannya secara nalar…..dan mereka menjadi kurang berlatih pikir karena disuapkan sesuatu yang mudah dicerna…..” , ngilu di ulu hatiku. Apakah aku salah lagi? Apakah aku membunuh, Aminah?

Sebaiknya kita berlibur saja……..dan nikmati empat hari yang indah ini.

Iklan

Aksi

Information

20 responses

19 03 2008
evi

jadi ingat mertua, sering mengatakan ‘ora ilok’ tanpa pernah bisa menjelaskan ‘apa sebabnya’. itu tidak bisa dimengerti oleh saya.
contohnya : setelah melahirkan anak, banyak sekali kata ‘ora ilok’ yang tidak boleh dilanggar walau kadang tidak masuk akal.

tapi manut aja ya? begitulah ora ilok itu……

19 03 2008
iman brotoseno

iya jeng,..
berlibur saja. Ora ilok ada hari hari kosong tidak dipakai…

bisa dipake tidur lebih lama mas……gak bangun pagi…hehehhe

19 03 2008
meiy

susah menerapkannya utk anak skrg kalau tidak pakai logika yg jelas, tp aku sendiri tidak mendapat hal-hal begini dari ortu (ortuku modern kali yah hehe). mungkin ada seninya agar anak bisa mengerti, memakai bahasa sekarang, tp tetap membuat mereka berpikir…

aku sendiri gak pernah bilang pamali ke anak2……mungkin yg banyak terjadi di tanah Jawa kali….

19 03 2008
kenny

aku lupa kapan terakhir bilang ora ilok….
libur 4hr?? ho oh gak ilok klo dirumah aja 😀
anak2 mau ulangan umum Seninnya……

oya, surabaya resto ada di odaiba tokyo Ndang, harganya emang agak mahal dibanding resto makanan jepang
makasih yo jeng….

19 03 2008
cewektulen

g ilok libur kok banyak bgt, orang indonesia keseringan libur ya bun…hiks hiks
lho kok nangis? libur ya dinikmati dooong…..jgn mikir macam2….

19 03 2008
Iko

Tapi benar lho… apa yang dibilang orangtua itu ada benarnya juga. Hanya terkadang kita sebagai anak suka bersikap “masa bodoh”…
bawaannya mo mbantah aja ya…hehehehe
Mengkomunikasikannya dengan baik, pasti bisa diterima dengan baik juga.

Happy long weekend, mbak Endang…. ^_^
met libur ya Ko….

19 03 2008
ayu

kalo yg msh bs diterima nalar ya percaya aja, tp lucunya kdg byk bgt benernya walo ga msk logika ato cm sekedar kebetulan dr sugesti kita sendiri tau deh.

iya, kebawa sugesti ya…

yg jelasnya met long weekend aja ya mbak 🙂
jalan2 kemana jeng?

19 03 2008
elyswelt

“menyapu harus selesai hingga masuk pengki agar suamiku tak brewok” 😀

ada juga arti lain yang pernah kudenga, agar perkawinan langgeng, nyapunya harus sampai selesai, nggak setenga2 😛
maksudnya kalo mengerjakan atau menjalani segala sesuatu harus sampai tuntas ya….

19 03 2008
venus

aku paling gak suka “ora ilok”, lha memang biasanya ga ada penjelasan logisnya jeee…:D
jadinya memang mesti nyari sendiri mbak…atau ketemu juga dgn sendirinya…..

19 03 2008
tata

gw lagi numpang nginet di tempat poto hahaha gk bisa kasih komen di tunggu ma mba2 nya
lhaaaa……..pamer doank dia…….nyetak foto LOMO ya?

19 03 2008
Landy

Tapi kadang ada benernya juga mbak walau memang sulit di terima logika 🙂

mungkin kita sendiri yang harus mau meresapi maksudnya dan dapat alasannya ya…

20 03 2008
elly.s

mertuaku pernah bilang ndang…
ora ilok duduk depan pintu…nanti lambat jodoh…
loh!!! bukannya aq wes kawin ma anaknya…
wakakakakak….

kakakakka……nah yang kayak gini nih gak masuk akal….atau salah ngasih alasan yak? LOL

21 03 2008
mercuryfalling

ora ilok itu gak beda ama fengshui. kenapa air tidak boleh disejajarkan dg api ? ya kalo teledor, kompornya kesiram air, modar deh gak jd masak.

pintu gak boleh berlawanan arah. ya karena debu yg masuk lebih banyak plus anginnya lebh kenceng. bertebaran ntar lukisan di dinding

😛
hahahha…….iya, akhirnya kita dapet sendiri ya alasannya……

22 03 2008
Tia

ora ilok kan budaya jawa ya…???

rasanya tiap daerah ada juga jeng…..tapi yang sering ngucap ya Jawa dan Sunda tuh…

22 03 2008
kw

ke”ora ilok”an itu kini sudah membiasa. tak ada lagi ora ilok. itu persepsi, tak real. jadi fun fun aja, tak perlu merasa terbelenggu
selamat berlbiru 🙂

nggak, nggak terbelenggu…..

23 03 2008
Yoyo

Pancen “ORA ILOK” kalo libur cuma buat tidur…hahaha…
Jalan-jalan biar fresh…atau traktir saya aja ya….
Met wiken yo Mbak….

lha kalo gak libur kan tidurnya kurang…..pergi, ongkos gak ada….yo enak tidur thooo….

23 03 2008
antown

enaknya yang dapat liburan panjang. Coba kalo saja saya juga dapat jatah libur.
satu hariiii aja. hehehe…. mana mungkin. korannya gak terbit dunk kalo saya libur

eh, koran mana mas? mestinya giliran liburnya tuh…….
salam

24 03 2008
bebex

pamali
jangan disebut2 lagi itu ora ora itu,, 😀
gimana liburannya mba?
^^

liburan banyak tidur doooong………kesempatan ! hehehhe

26 03 2008
GusKoko

Zaman memang berbeda, kalau anak zaman dahulu; enggak bisa protes, “merah kata orangtua, maka “merah”-lah pula si anak. Mungkin bisa juga, orangtua zaman dulu malas men-jabarkan alasan2 “mengapa ora ilok”, biar gampang maka beliau2 mengatakan “ora ilok titik” enggak boleh dibantah.
Zaman sekarang ……….. semua harus dijelaskan ya khan ?!

Maaf, ini komentar yang terlambat ya ? 🙂

Gak ada tuh komentar terlambat Gus…….kapan aja boleh kok….dan memang benar, semua harus dijelaskan dgn hati dan logika sekaligus…

1 04 2008
stey

‘jangantidur sama taruh tangan di kepala”, “jangan makan di depan pintu”, banyak banget “jangan” yang diwariskan mamaku ke saya dan ketika kecil saya bahkan ga bisa membantah. Sekarang pun, untuk beberapa hal, saya sudah menemukan kenapa itu dilarang, yang lain masih belum toh saya masih mematuhi larangan2 pamali itu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: