Mendidik tanpa konsep, tetapi……

3 02 2009

Ketika empatbelas tahun yang lalu saya melahirkan untuk yang pertamakalinya, tidak ada satu kalimat pun mampu mewakili keterpanaan saya. Terpana karena pada akhirnya saya sampai juga di titik itu, dimana seluruh tubuh dan hidup saya berada dalam wujudnya yang sama sekali baru meski tampaknya sama saja. Ajaib, adalah kata berikutnya yang juga bisa dikatakan klise yang mungkin bisa didaftarkan dalam benak saya sebagai rekomendasi untuk diucapkan. Tetap saja semuanya berlarut dalam bidang rasa dan saya hanya membiarkan orang-orang di sekeliling saya untuk mengucapkan apa saja yang mereka inginkan.

Belum sampai saya pulang dari rumah sakit dan mulai menghayati peran saya sebagai ibu yang harus melakukan sesuatu untuk bayinya, sebuah kalimat mencuat dari sebuah bibir yang saya kenal. ” Tinggal mendidik saja tugas berikutnya”. Kalimat yang secara otomatis saya beri anggukan kepala dan ulangi secara tepat. Apa artinya itu? Bagi saya, yang pertama tentu menjadi sebuah alarm pengingat bahwa mengandung dan melahirkan adalah pekerjaan mudah. Yang terberat adalah tugas mendidik bayi ini menjadi seorang MANUSIA. Makna kedua, adalah pertanda bahwa masa-masa berikutnya adalah bulan madu antara ibu dan anak yang tak boleh disia-siakan jika tak ingin menyesal hingga mati.

Apa bekal saya sebagai seorang pendidik? Saya mempunyai keahlian merawat bayi dengan pengalaman keikutsertaan merawat dan mengasuh anak-anak kakak-kakak saya. Secara fisik. Tetapi mendidik, tidak sedikit pun saya bayangkan akan mampu saya lakukan. Ditambah dengan ketidaksabaran asli dan tidak tergila-gilanya pada anak kecil, kegagalan membayang di pelupuk mata. Menjalani saja apa yang diyakini, akhirnya adalah langkah pertama yang saya ambil. Dan kemudian diperkaya dengan pengalaman sebagai seorang anak yang menerima semua perlakuan ayah ibu dengan paduan rasa suka dan tidak suka. Yang tidak saya sukai sebisanya tidak saya terapkan pada pola didikan saya, dan sebaliknya dengan yang saya sukai. Apa yang saya yakini harus tetap ada suka atau tidak seiring trend yang ada, akan saya terapkan dengan modifikasi kreatif saya. Dan lain-lain sesuai naluri membisiki.

Hingga kini saya kemudian mempunyai dua anak, saya masih sering memikirkan tentang bekal ketrampilan mendidik itu. Saya melakukan ini dan itu, mengatakan ya dan tidak, mengajak bermain dan memarahi, semuanya memakai referensi yang pernah ada. Dari keluarga, dari nilai sosial dan agama, dari pengalaman sebagai manusia, dan mungkin juga dari pendidikan yang pernah saya lalui. Sudahkah baik dan benar, tidak tahu. Terlebih jika melihat dan membandingkan dengan bagaimana orang lain mendidik anak mereka, baik dan benar itu tidak pernah saya temukan. Hasilnya suatu hari nanti, juga tidak mutlak menunjukkan hal itu.

Pada akhirnya, saya lebih memilih memusatkan perhatian pada ada dan tidaknya hubungan batin ibu dan anak yang tidak hanya terberi secara alamiah tetapi juga harus dibina dengan kesungguhan. Kedekatan. Keterbukaan yang tetap memberi peluang adanya privasi. Dan kemampuan untuk saling mengungkap rasa dan pikiran. Berkomunikasi dengan lancar. Maka saat suatu hari kami duduk berhadapan, menceritakan segala ganjalan dengan tenang hingga di satu titik bahkan menerbitkan airmata haru di masing-masing kami, di sudut hati saya muncul setitik sinar. Apa yang saya inginkan dari sebuah hubungan ibu dan anak mewujud nyata. Bersama dengan waktu yang akan semakin mendewasakan mereka, saya tahu di ujung jalannya nanti mereka akan mengenang saat-saat itu dan menjadikannya bekal mendidik anak-anak mereka.


Aksi

Information

10 responses

4 02 2009
mrpall

pertama salam knallll

5 02 2009
la mendol

Tugas berat ya mbak…

Perhatian dan kasih sayang, kayaknya cara mujarab untuk mendidik.
Nggak cuman ngasih materi doang.. khan perhatian lebih penting, seperti caranya sampeyan itu.

5 02 2009
de

mendidik dengan teladan itu yg sulit.

10 02 2009
evi

tugas yang berat Mba. mulai saya rasakan, tapi Insya Allah saya harus bisa. 🙂

11 02 2009
hery

Takut memang kalau anak salah arah ya jeng. oh ya sekolahin di india ajah halah ngomong opo aku hiks

12 02 2009
meiy

sama yg aku rasakan jeng, udah 14 tahun? selamat ya, april ini Ufiku juga sudah 14 tahun.

nyatanya tak ada satu teori yg pas buat mendidik selain belajar terus dan seperti yg kamu tulis, mendidik dg cinta…

13 02 2009
JelajahiDuniaEly

jadi ingat waktu masih ngajar, murid2ku tidak hanya les privat saja, tapi suka curhat ttg segala macam, jadi sering habis les molor di rumahku blom yang mau diskusi tentang pr yg mereka terima di sekolah ..

apa kabarnya nih ? met wiken ya 🙂

14 02 2009
mbak maya

It’s a nice blog. Salam kenal ya..

17 02 2009
meilinpruwita

trial and error tepatnya yo mbak…hehe

yang pasti apa yang kita ndak sukai jaman kita cilik dulu nggak akan aku tepatkan dalam soal didik mendidik anak mbak^^

19 02 2009
Mufti AM

Teori dengan praktek tentu berbeda jauh. Pengalaman adalah pelajaran yang sangat berharga. Mendidik anak agar berakhlak baik tentu sangat sulit dibanding mendidik anak agar menjadi juara di kelas. Tentunya akan lebih bagus jika kita mampu menggabungkan berbagai hal yang positif sehingga anak-anak kita bisa menjadi generasi yang membanggakan orang tua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: