…..sebuah hati…….sebuah makna…..

22 12 2009

Kopi  dan hujan deras pagi hari 22 Desember ini, aromanya berbeda…..sama, tapi terasa berbeda…paduan keduanya melemparkan saya pada sebuah refleksi diri yang tak habis saya kupas, dan tak tahu dimana harus berhenti.

Sejak kemarin, semua orang yang mampu saya pandangi berkata tentang istimewanya hari ini. Ungkapan kasih dan cinta sudah terburai bahkan sebelum matahari tanggal 22 Desember menampakkan diri.  Tentang sebuah hati, tentang sebuah peran, cinta, tanggungjawab,…..dan lebih nyata lagi, tentang sebuah sosok. Ibu. Hari Ibu, bagi semua ibu  Indonesia.

Sesungguhnya, sebagai pribadi dan sebagai seorang ibu, saya tidak pernah merasa harus mengistimewakan hari ini. Bahkan ketika harus bicara tentang rasa terimakasih pada ibu saya,  tidak juga saya merasa harus melakukannya hari ini. Dalam setiap detik kehidupan saya, rasa terimakasih itu ada dan tak terucapkan dalam untaian kata. Saya memegangnya sebagai  dzikir, dan semoga Gusti menerima dzikir saya ini. Lalu memandang diri saya sendiri sebagai ibu…….saya bahkan tak punya kalimat apa-apa.

Ketika seorang kawan, wanita tanpa anak, bertanya tentang definisi Ibu…..saya cuma menunduk. Apakah yang memiliki anak? Ataukah yang mengasuh anak meski bukan dari rahimnya? Ataukah semua wanita yang sudah menikah? Atau bahkan untuk semua wanita? Benar-benar saya menunduk. Janji Allah bahwa surga berada di telapak kaki Ibu, mungkin itulah yang membuat semua perempuan ingin menggapainya.  Jika sesederhana itu, maka lahirkan saja bayi dan tidak peduli apa yang dilakukan kemudian tidak akan menghapuskan surga itu. Saya hanya membayangkan sebuah wajah wanita yang terlalu mendongak jika itu benar. Dan meranalah mereka yang tidak beruntung memiliki rahim emas.

Sebagai sebuah hati, kelelahan seringkali datang.Dan di ujungnya terciptalah keluhan. Tetapi surga tetap melekat di telapak kaki seberapa panjang pun keluhan itu. Duh Gusti, saya semakin tidak berani mengangkat kepala dan meminta ungkapan selamat. Saya tak berani meminta waktu untuk merayakannya dengan meninggalkan tugas keibuan dalam satu hari ini.

Dalam derasnya hujan, saya mempertanyakan cinta saya sendiri untuk permata-permata hati dan belahan jiwa saya. Sudahkah cinta saya tak bertepi? Masihkah saya mau tersenyum ketika mereka datang di awal pagi dengan permasalahan mereka? Sudah cukupkah saya menenteramkan hati mereka ketika gundah? Ataukah keluhan saya yang membebani mereka?

Tuhan mendengarkan harapan saya yang ingin menguji keibuan saya sendiri. Diam-diam, saya tersenyum dan bersyukur. Permasalahan yang datang pagi ini menawarkan sebuah jalan untuk saya membuktikan besarnya  rasa cinta yang ada buat kekasih-kekasih kecil dan belahan jiwa saya. Saya ingin menjalaninya dengan diam dan sederhana, tidak berlebihan selain menerima. Agar pantas surga itu berada di telapak kaki ini. Dan saya tidak membutuhkan hari  atau sebutan apapun untuk mengingatkan bahwa memiliki hati seorang ibu adalah yang paling berharga untuk saya yakini dan maknai……….

Iklan

Aksi

Information

2 responses

2 04 2010
gakpede

baru terbaca
…. kesadaran yang bukan main, bu,
saya ngiri, karena telapak kaki laki-laki tak membawahi surga

2 04 2010
endang

Jangan ngiri pak…..mgkn kaki lelaki tdk membawa surga. Tetapi ketika perempuan tidak menunjukkan bakti pada lelaki baik yang melindunginya, maka surga yg dibawa perempuan itu jg tdk sempurna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: