andai saja…………..

18 11 2009

Sangat tak mungkin bagi saya mengelak jika kebanyakan orang yang mengenal saya lalu menilai sebagai sosok yang sangat dekat dengan sifat tradisional. Bagaimanapun saya tampil dengan segala atribut kemodernan yang mampu saya jangkau, sifat tradisional itu akan tetap tampak. Terlebih dengan separuh lebih usia saya habiskan dalam lingkungan tari, kesan itu akan semakin kuat terasa. Segala yang saya dapat dari dunia tari nyata benar sangat mempengaruhi apa yang saya pikirkan, ungkapkan……

Saya lalu teringat ketika masih baru belajar menari. Ada satu tarian dengan ragam gerak membatik. Memegang kain, canting, mengambil malam, meniupnya agar malam dapat menetes dan dilukiskan pada pola kain, dan mulai membatik. Gerakan itu melekat erat di benak saya, dan sejak saat itu pula selalu tersimpan angan untuk melakukannya secara nyata. Bukan cuma menari. Sampai saya beranjak tua, saya tidak punya kesempatan untuk mewujudkannya. Saya pikir, itu adalah kemewahan yang dimiliki orang-orang tertentu dan orang seperti saya sulit untuk mendapatkannya, dengan segala keterbatasan yang ada.

Sampai di hari Minggu lalu, impian itu terwujud. Duduk dalam kelas pengenalan membatik ibu Indra Tjahjani, saya membayangkan lagi gerakannya, meniup canting……dan …..teman saya tertawa. Katanya, dalam pengalamannya mengikuti kelas membatik tidak pernah terjadi dia harus meniup canting untuk mengeluarkan malam. Cukup mencelupkan lagi canting pada wajan kecil tempat memanaskan malam, maka lilin dingin yang mulai membeku dan menutup lubang canting akan dengan sendirinya mencair. Siap untuk digunakan lagi. Logika sederhana tetapi tidak pernah saya cari sampai saya melakukannya sendiri. Tidak tanggung-tanggung, saya membatik kaos agar bisa saya pakai.

Dan segala bayangan itu masih melatari gerak awal saya membatik . Kesabaran ala meditasi gerak bedhaya, pengaruh baju batik yang saya kenakan, semua melingkupi saya hari itu. Hingga akhirnya keluhan, tawa teman seperjuangan dan tetesan lilin panas di tanganlah yang menjatuhkan saya pada dunia nyata. Dan meditasi saya buyar, menjelma kembali menjadi keseharian seorang perempuan yang tak feminin sama sekali. Tapi setidaknya, saya sangat bahagia hari itu. Saya membatik ! Saya membatik! Layaknya mantra, saya ulangi terus kalimat itu dalam hati. Apapun hasil akhirnya, saya akhirnya membatik !

Sedikit saja yang saya sesalkan dari catatan tentang hari itu. Yaitu ketika ada satu mbak pendamping yang memberitahukan bahwa saya harus tebal-tebal melukiskan malam pada bahan kaos saya itu. Saya lalu menurutinya hingga membuat mas dan mbak yang melakukan pewarnaan kesulitan sendiri melorot malamnya. Dan satu lagi mbak pendamping lain begitu saja mengoleskan parafin pada lengan kaos saya.

Saya tidak begitu mengerti awalnya, bagaimana olesan parafin itu akan mewujud pada kaos saya. Mbak tersebut bersikap seolah pengolesan parafin itu adalah sebuah keharusan dalam proses membatik. Tanpa bertanya, beliau langsung saja mengoleskannya pada lengan kaos saya. Ketika saya dapati hasl akhirnya kemudian setelah pewarnaan, membuat bibir saya terbuka lebar menganga. Dan tanpa saya perintahkan, otak saya seperti melihat Maradona memakai batik. Atau, mungkin begitulah kurang lebih bentuknya jika suatu saat para penghuni keraton ingin membuat kaos seragam sepak bola.
Tapi ‘luka kecil parafin’ itu tetap tidak menutupi kebahagiaan saya. Pengalaman mewujudkan apa yang selama ini saya angankan lebih berarti dari segalanya.

Andai saja saya bisa membatik setiap hari dengan diiringi suara gamelan, angin semilir, singkong rebus dan segelas kopi…………….





Perempuan Pendiam dan Menyimpan Bara

23 08 2009

Kunti termangu saja. Diam.
Merenung namun nyatanya toh tak ada buah yang dapat dipetik dari pohon benaknya. Kosong juga tidak. Jika di kepala ini terdapat pusaran, maka pastilah pusaran itu akan sangat berbahaya hingga segala yang berenang melewatinya tak mungkin selamat melenggang menjauh dari pusatnya. Begitu dalam dan keras berputar, hingga keruh.

“Apa yang sudah kau lakukan? Benarkah ….. apa yang kudengar di luar sana?….Maaf, maafkan aku bertanya begini”

Pertanyaan itu dilontarkannya satu bulan yang lalu. Kaku, dan memaksakan keberanian. Pertanyaan itu seperti sebuah dongakan tinggi kepalanya kepada raja yang berdiri di hadapan. Tindakan yang tak pernah dia kenal dalam sejarah hidupnya bersama orangtua dan kini Brata, suaminya. Tetapi kepala itu menegak sendiri. Terdorong arus liar dalam darah yang memagma, terlalu kuat untuk dibendung. Dan ludah yang ditelannya berulangkali untuk meredam arus itu nyata-nyata tak kuasa menahan panasnya magma dalam darahnya. Dan lehernya tegak begitu saja tanpa dia perintahkan pada syaraf.

Kicau burung pagi itu biasa. Tetapi ketika kicaunya tak berhenti dan semakin ramai di siang hingga malam di seluruh penjuru kota, maka burung-burung ini pasti dari jenis yang berbeda. Suaranya riuh, dan terlalu riuh tak menyisakan sedikit hening untuk Kunti memejamkan mata sejenak saja. Riuh, dan langsung menyayat hati. Tentang Putri yang lain yang ingin mencari atap yang sama dengannya. Tentang Pangeran pelindungnya yang lemah hati. Tentang sebuah wangi yang tak wangi sama sekali bagi indera penciumannya sendiri.

” Tidak ada cerita itu. Tidak pernah ada, dan tidak akan pernah ada”, begitu tegas Brata.
Suaranya tegas dan keras. Mantap, dengan nada dalam yang dulu menarik Kunti ke bawah atap ini.
” Burung selalu berkicau sendiri dengan nada yang dia ciptakan sendiri”, lagi Brata berkata.

Kunti mengerjap. Dia ingin memastikan apa yang dia lihat. Dalam kerjapan matanya yang berulangkali, tak sekalipun bersilang pandang dengan mata Brata. Sebuah pandangan yang dia nantikan, karena dia memegang dua pusaka lelaki itu, suara mantap dan pandangan mata. Kunti hanya memegang satu. Dan dia memilih untuk berjalan membelakangi Brata.

Gusti…..ketika pusaka ini hanya satu, apakah harus runtuh tiang penyangga atap?
Gusti…..jantungku seolah berlari tanpa penunjuk arah sedang aku terus bermohon padaMu…..

*****

” Saya seorang istri, ibu……”
” Lalu bagaimana? “
Perempuan tua itu bertanya lembut. Hatinya dia tata rapi, sekukuh pengalaman hidup yang banyak membaca tanda. Jantung tuanya cukup kuat untuk menerima dentang lonceng yang memekakkan, hanya karena mata tuanya begitu tajam melihat gerak rumput tertiup angin.
” Saya tak mungkin untuk tidak mempercayai mas Brata di kesempatan pertama. Hati perempuan seringkali membutakan. Itu saja yang saya waspadai. Saya tak ingin buta tanpa sebab”
” Dan bagaimana denyut hati membawamu selama itu?”
” Selalu bertentangan dengan keinginan saya. Dia sudah buta sekarang. Hingga saya tak mampu berpikir”

Hening. Dua perempuan terdiam dan larut dalam genangan benak masing-masing. Di tiap persimpangannya, genangan-genangan itu mencoba saling menyentuh dan bertaut.

” Lembut, tak berarti kamu menjadi tak mampu untuk tegak. Bukanlah dosa ketika kamu menjawab persoalan hidupmu sendiri, Nak….”

Kunti mengangguk sekali dan tertunduk.

*****

Hari ini Brata akan datang. Pesawat terakhir dari Bali, dan seperti biasa tak ingin dijemput.
Brata tak tahu, Kunti memang tidak sedang menjemput. Dia tak melihat Kunti. Namun Kunti melihat bagaimana Brata berjalan menggenggam tangan mulus yang tak dikenalnya. Bukan sanak atau kadang, tetapi keakrabannya sangat nyata. Bahkan rasa sayang begitu nyata di genggaman itu. Ketika taksi yang membawa Brata berlalu, Kunti pun meminta taksinya berlalu. Langsung menuju rumah. Jam 8 malam saat itu.

Jam 12 tengah malam. Ranjang itu sudah tertata rapi dan bersih. Bunga mawar merah ditaburkan di atasnya. Perlakuan istimewa malam ini.

” Maaf Kunti, pesawatku tertunda keberangkatannya. Macet pula dalam perjalanan ke rumah. Kamu lelah ya?”
” Sudah biasa, mas…..tidak apa”
” Hmmmm….istimewa sekali kau menyambutku. Ranjang ini wangi dan indah. Bunga-bunga yang kau taburkan, mengingatkan malam pertama kita 20 tahun lalu”.
” Ya mas….segeralah berbaring. Bisa kulihat kelelahanmu bekerja. Mudah-mudahan tidurmu nyenyak dengan kenangan indah tentang 20 tahun lalu itu”.

Brata bersiap. Duduk di tepi ranjang dan sesaat kemudian memiringkan tubuh untuk berbaring. Kunti melepaskan sepatunya, dan diletakkan rapi di kaki ranjang. Kunti berjalan mendekati tubuh Brata. Mengusap pelan wajahnya.

Dan hitungan waktu berjalan lambat kemudian. Brata terbaring tak bergerak. Tubuhnya kaku menegang. Merah menggenangi seprai bersih. Mawar-mawar itu pun basah dan lengket. Kunti hanya berdiri diam mematung. Tangannya memegang pisau. Pisau yang sama yang membawanya luruh, bertimpuh merah di atas tubuh suaminya.

Jam 1 malam sekarang. Rumah itu sunyi …………….





di suatu tempat, di suatu waktu………..

26 05 2009

 

Saya pikir, …….hanya sebuah bentuk bangunan bata. Yang sama saja dimana pun adanya atau bentuknya. Tempat berteduh, tempat pulang….dan melakukan apa saja. Nyawa, ada pada yang hidup dan bergerak. Maka begitulah bangunan bata itu menjadi tak berarti lagi ketika nyawa-nyawa yang tadinya disana lalu pergi. 

Saya kira……bukan hal sulit. Ketika niat itu ada dan semua terpasrahkan, maka segalanya menjadi mudah. Dunia fana, bangunan bata yang juga bisa ditemukan dimana pun…..mudah untuk ditinggalkan. Tidak sulit ketika dunia bukan pijakan kita.

Nyatanya saya tidak sepenuhnya benar. Apa yang saya pikir dan kira……..tak selalu seperti itu.
Di dalam bangunan itu, banyak sekali yang terjadi. Rumah itu menjadi hidup bersama nyawa-nyawa yang bergerak di dalamnya. Suka senang tawa dan airmata membasahi dinding-dindingnya dalam catatan yang tersembunyi. Jika saja dinding-dinding bata itu punya hati, maka catatannya juga akan sepanjang yang tersimpan dalam hatiku.

Disana……..saya tumbuh remaja dan menikmati keremajaan saya dengan segala warnanya. Menemukan cinta saya sambil masih juga menikmati siraman perhatian dari cinta yang tak pernah saya sambut. Bersama 60 buah durian sebagai saksi penentuan sikap saya tentang cinta mana yang akan saya bawa lena nanti.

Disana……. saya menikah dengan pertunjukan yang seolah terbesar tahun itu, …..melahirkan Ari dan Rayi…. membesarkan anak-anak itu tanpa pundak bapaknya. Tapi ada tangan-tangan ayah ibu menemani dengan segala pemahamannya yang tak seberapa tentang perubahan jiwa saya.

Dan tahun terus berjalan, ….Ari Rayi tumbuh di tempat lain namun rumah dinding bata kukuh ini sudah memberikan jejak sejarah yang dalam di hati mereka. Saat anak-anak ini meminta untuk datang lagi ke rumah ini, sekedar ingin melihat kekiniannya………yah, kami tidak pernah menangis. Tidak pernah ada gunanya menangisi dinding. Namun kelebat ingatan yang pernah ada sudah cukup membuat kami mengerti maknanya. Tenda, seremoni, tawa, canda, duka……….biar kami bawa bersama bentuknya yang dulu. 

Semoga, siapapun yang nantinya berdiam disana………….mampu memberikan nyawa yang rumah itu rindukan. Nyawa yang pernah kami berikan untuknya…….

 

Sunter.......kini yang kering.......

Sunter.......kini yang kering.......





Cinta Pada Berpotong-potong Roti

25 03 2009

Pada dasarnya, di awalnya, saya tidak begitu menyukai makanan pokok saya sendiri, nasi. Dulu saya tak banyak memiliki pilihan dan setelah dewasa, saya tetap tak memiliki pilihan ketika harus berhadapan dengan sambel terasi. Selebihnya, saya tidak mencari nasi saat berjumpa dengan aneka roti, kue, sayur dan makanan lain yang mandiri tanpa nasi.

Kenyataan itu, sekarang diwarisi oleh sulung saya. Selera makannya lebih mem’bule’ dibanding adiknya yang lebih tradisional. Maka pernah ada masa sulung saya itu harus bertemu roti dan meisjes minimal dua tangkap roti sehari. Setiap hari. Saya saja dibuat bergidik dengan kemonotonan itu. Tapi dia sehati dengan eyang kakungnya. Sedangkan si ragil, kadar kegemarannya pada roti meisjes ini tidak segila kakaknya.

Beranjak remaja, kebosanan mulai bisa dirasakan oleh sulung saya itu. Dia masih makan roti meisjes itu, tetapi tidak lagi setiap hari. Pertama kali menyadari kebosanan itu adalah saat bekal rotinya tidak dimakan habis di sekolah. Saya mulai leluasa memberinya menu sarapan yang berganti-ganti dan memberinya makan siang dengan catering yang ditawarkan sekolah.

Sekarang, roti tawar dan meisjes itu sendiri sudah berbalik menjadi seperti momok di rumah ini. Kenapa menjadi terdengar menyeramkan? Semuanya karena sang eyang kakung menjadi tetangga kami.

Pengetahuan eyang kakung tentang kesukaan cucunya, tidak terbarui dengan benar. Bisa jadi karena saya, Uban dan anak-anak tidak merasa perlu terus mengumumkan apa yang sedang disukai oleh cucu-cucunya. Bisa jadi juga, beliau sengaja tidak ingin mendengar perkembangan itu karena merasa gembira ada keturunannya yang mewarisi kegemarannya itu. Dan ketika akhirnya tinggal berdekatan seperti saat ini, tampak kisahnya seperti humor yang akan dikenang sepanjang masa.

Setiap sore, si eyang kakung akan membuat beberapa lembar roti meisjes dan menunggu cucunya datang. Pagi hari, sudah ada beberapa lembar roti meisjes dimasukkan bungkusan plastik. Yang terjadi, dua anak saya, juga saya sendiri, akan saling mengingatkan giliran siapa hari itu yang akan membawa ‘trophy’ ke sekolah. Terserah bagaimana caranya roti itu bisa habis, meski artinya banyak teman mereka akan bersorak mendapat bekal gratis. Begitupun, beberapa kali saya masih harus membuang bekal itu karena terlupakan dan akhirnya basi.

Tidak hanya sekali anak-anak saya berusaha bicara pada eyangnya untuk tidak setiap hari membuatkan mereka hidangan wajib. Pesan diterima, dan hasilnya adalah menjadi dua hari sekali secara tepat. Luar biasa! Dan meski sesekali eyang ini terlambat bangun dan cucu-cucunya sudah berangkat sekolah, hidangan wajib itu toh masih diantar ke rumah saya. Seperti pagi ini.

Kami tidak tahu bagaimana menenangkan ‘tembakan roti’ ini. Tampaknya bagi eyang, itu adalah passion. Tak ada juga rasa tega di hati untuk menolak ataupun mengingatkan lagi. Tetapi pikiran saya, seperti biasa, melayang jauh ke depan. Ke masa nanti yang entah kapan. Pasti, akan ada masa bagi kami membicarakan humor ini dengan penuh cinta dan airmata kerinduan. Pasti kami akan selalu merindukan pensiunan tentara yang setia menembakkan mitraliur roti meisjesnya. Kami akan tahu, roti meisjes bisa dibuat oleh siapapun. Tetapi kehadirannya akan selalu dikenang secara berbeda. Dan semua alasan itulah yang membuat kami tidak cukup punya hati untuk berkata TIDAK. Roti meisjes itu hadir hanya karena cinta.





api unggun

3 03 2009

Saya sedang membayangkan………

gelap, alam,
gelisah, teman, api unggun, keretak kayu,percikan abu,
kata, kalimat, tenang, damai, berbagi
long lasting…………

tidak, tidak ada sesuatu yang terjadi………tapi gambaran itu begitu memenuhi benak saya dan tak bisa padam dengan berlalunya malam…..





Wajah Dalam Pigura

25 02 2009

Cappucino saya pagi ini terasa agak berbeda manisnya. Dia tidak membawakan saya suara-suara desiran angin yang mendayu seperti biasa dan melanglang buana tak tentu arah. Dia justru menemani alam pikiran saya yang dengan senang hati berderap berlari menembus belasan tahun di belakang, di saat diri ini merasa menjadi orang penting di dunia kecilnya, dunia kampus. Saat ada seseorang yang entah bagaimana awalnya bisa begitu khilaf mencalonkan saya dan dua teman lagi untuk menjadi salah satu anggota legislatif Badan Perwakilan Mahasiswa. Lalu satu teman saya menandai bahwa periode kami itu adalah periode terseru sepanjang sejarah kampus yang pernah kami dengar. Dengan segala idealisme kami. Mungkin berlebihan…..biarlah, karena kenyataannya kami toh sang penembus kenangan rimba raya benak kami.

Lalu cappuccino itu benar-benar mengantar awal hari ini dengan sesuatu yang menuntut saya mengorek kembali kemampuan otak yang pernah ada di dewan rakyat itu dalam menanggapi sebuah kabar, adanya seorang sutradara andalan pemirsa yang ingin menjadi ujung tombak kepemimpinan negeri.

Derapan pemikiran saya seringkali memang menjalar ke ranah yang bagi sebagian orang sangat tak berkaitan. Sebagian menyebutnya sebagai sedikit cipratan darah seni yang akhirnya mengotori logika hingga ke akar-akar hati dan rasa. Maka begitulah kenangan sebagai mantan anggota legislatif kampus itu juga tercemari oleh haru biru kenyataan saat ini dimana posisi saya adalah sebagai wakil presiden rumahtangga. Ibu, yang tidak membagi tugas kerumahtanggaannya dengan urusan kantor milik pengusaha lain. Memasak, mengurusi pakaian dan kebersihan serta kesejahteraan anggota keluarga, begitu mewarnai hari-hari saya tanpa jeda. Hingga saya bertemu dengan dunia tulis menulis, saya merasakan betapa dedikasi saya tak penuh lagi dipersembahkan pada rumah dan seisinya ini. Belantara pengembaraan imajinasi dan angan dan keinginan saya betul-betul terpecah. Ketika kepala saya begitu berisiknya dengan rentetan huruf yang mengelompokkan diri begitu saja menjadi kalimat-kalimat panjang, seketika itu hasrat saya pada cabe bawang daging tomat pun lenyap tak berbekas. Jika kemudian api kompor masih menyala, maka itu semata hanya persoalan tanggungjawab tanpa hati lagi. Lalu di tengah aliran air membilas cucian piring dan wajan, terbersit tanya yang entah bagaimana menjawabnya. Jika kapasitas hati dan pemikiran saya begitu terbatasnya dalam lingkup keluarga kecil ini, apakah keterbatasan ini hanya menjadi milik saya semata? Ataukah begitulah semua manusia diciptakan? Beruntung pertanyaan ini menguar di saat piring terakhir telah saya sandarkan di tempatnya hingga tak perlu pecah sia-sia.

Yah, saya sedikit lelah. Beberapa hari ini saluran kabel yang biasanya mampu mengalihkan perhatian saya dari sinetron airmata dan kebengisan tak berfungsi dengan layak. Dan sudut hati saya begitu merindukan Para Pencari Tuhan. Oase bagi kelelahan saya yang ingin mencari nilai cinta yang semestinya. Bukan cinta yang hanya senilai dengan coklat. Saya merindukan episode lain, atau serial lain dari bidannya. Bidan yang mampu berpikir kreatif dan mencerminkan hatinya yang halus, dan menenangkan saya dari sebuah kegelisahan dan kejemuan.

Ternyata jeritan kerinduan saya kini meruncing menjadi sayatan. Salah saya sendiri karena saya berandai dalam sebuah kabut yang bisa saja hilang dalam hujan. Karena saya berandai menjadi sutradara andal yang pernah menawarkan warna baru pada warna pelangi yang hanya mejikuhibiniu. Dan saya lalu dielukan sebagai manusia bijak bestari yang bahkan artinya tidak saya ketahui dengan tepat. Dan saya terlena pada belaian sayang semua orang, hingga menempatkan wajah saya sendiri di sebuah pigura berlatar bendera suci . Wajah saya yang dalam pigura itu lalu berkerut karena hasrat hati untuk melukis warna-warna baru pelangi itu tak mungkin terpuaskan. Juga berkerut ketika memaksakan diri untuk melukis lalu banyak mulut ternganga karena terlupa saya berikan ciuman. Saya hanya berkerut. Tetapi mulut yang menganga itu mungkin bahkan akan mengalirkan liur beratus liter tanpa henti selama satu periode. Ada yang menganga karena rindu akan warna, dan ada yang menganga karena suaranya dibiarkan berlalu tanpa bau.

Ah……itu mungkin pengandaian dalam kapasitas saya yang hanya sepetak kecil. Mungkin, kapasitas seorang sutradara andal yang sebenarnya, jauh lebih luas dari saya. Begitupun, saya masih memiliki angan tentang sebuah wajah dalam pigura……….





Mendidik tanpa konsep, tetapi……

3 02 2009

Ketika empatbelas tahun yang lalu saya melahirkan untuk yang pertamakalinya, tidak ada satu kalimat pun mampu mewakili keterpanaan saya. Terpana karena pada akhirnya saya sampai juga di titik itu, dimana seluruh tubuh dan hidup saya berada dalam wujudnya yang sama sekali baru meski tampaknya sama saja. Ajaib, adalah kata berikutnya yang juga bisa dikatakan klise yang mungkin bisa didaftarkan dalam benak saya sebagai rekomendasi untuk diucapkan. Tetap saja semuanya berlarut dalam bidang rasa dan saya hanya membiarkan orang-orang di sekeliling saya untuk mengucapkan apa saja yang mereka inginkan.

Belum sampai saya pulang dari rumah sakit dan mulai menghayati peran saya sebagai ibu yang harus melakukan sesuatu untuk bayinya, sebuah kalimat mencuat dari sebuah bibir yang saya kenal. ” Tinggal mendidik saja tugas berikutnya”. Kalimat yang secara otomatis saya beri anggukan kepala dan ulangi secara tepat. Apa artinya itu? Bagi saya, yang pertama tentu menjadi sebuah alarm pengingat bahwa mengandung dan melahirkan adalah pekerjaan mudah. Yang terberat adalah tugas mendidik bayi ini menjadi seorang MANUSIA. Makna kedua, adalah pertanda bahwa masa-masa berikutnya adalah bulan madu antara ibu dan anak yang tak boleh disia-siakan jika tak ingin menyesal hingga mati.

Apa bekal saya sebagai seorang pendidik? Saya mempunyai keahlian merawat bayi dengan pengalaman keikutsertaan merawat dan mengasuh anak-anak kakak-kakak saya. Secara fisik. Tetapi mendidik, tidak sedikit pun saya bayangkan akan mampu saya lakukan. Ditambah dengan ketidaksabaran asli dan tidak tergila-gilanya pada anak kecil, kegagalan membayang di pelupuk mata. Menjalani saja apa yang diyakini, akhirnya adalah langkah pertama yang saya ambil. Dan kemudian diperkaya dengan pengalaman sebagai seorang anak yang menerima semua perlakuan ayah ibu dengan paduan rasa suka dan tidak suka. Yang tidak saya sukai sebisanya tidak saya terapkan pada pola didikan saya, dan sebaliknya dengan yang saya sukai. Apa yang saya yakini harus tetap ada suka atau tidak seiring trend yang ada, akan saya terapkan dengan modifikasi kreatif saya. Dan lain-lain sesuai naluri membisiki.

Hingga kini saya kemudian mempunyai dua anak, saya masih sering memikirkan tentang bekal ketrampilan mendidik itu. Saya melakukan ini dan itu, mengatakan ya dan tidak, mengajak bermain dan memarahi, semuanya memakai referensi yang pernah ada. Dari keluarga, dari nilai sosial dan agama, dari pengalaman sebagai manusia, dan mungkin juga dari pendidikan yang pernah saya lalui. Sudahkah baik dan benar, tidak tahu. Terlebih jika melihat dan membandingkan dengan bagaimana orang lain mendidik anak mereka, baik dan benar itu tidak pernah saya temukan. Hasilnya suatu hari nanti, juga tidak mutlak menunjukkan hal itu.

Pada akhirnya, saya lebih memilih memusatkan perhatian pada ada dan tidaknya hubungan batin ibu dan anak yang tidak hanya terberi secara alamiah tetapi juga harus dibina dengan kesungguhan. Kedekatan. Keterbukaan yang tetap memberi peluang adanya privasi. Dan kemampuan untuk saling mengungkap rasa dan pikiran. Berkomunikasi dengan lancar. Maka saat suatu hari kami duduk berhadapan, menceritakan segala ganjalan dengan tenang hingga di satu titik bahkan menerbitkan airmata haru di masing-masing kami, di sudut hati saya muncul setitik sinar. Apa yang saya inginkan dari sebuah hubungan ibu dan anak mewujud nyata. Bersama dengan waktu yang akan semakin mendewasakan mereka, saya tahu di ujung jalannya nanti mereka akan mengenang saat-saat itu dan menjadikannya bekal mendidik anak-anak mereka.





Tetangga Baru Yang Sering Ku-nenanggain

7 01 2009

Harus aku…ah, tahun baru mengganti sebutan mungkin lebih enak…mmm, harus saya akui bahwa saya memang sangat mungkin digolongkan pada jenis manusia yang tidak suka untuk sering bersosialisasi. Ingatan saya menunjuk pada keengganan untuk melakukan kopi darat kegemaran para blogger. Belum lagi pada kemalasan saya untuk bicara. Ah ya….di satu sisi gen pendiam ini sangat jelas menurun dari bapak. Saya hanya mampu bicara banyak pada orang-orang yang sudah sangat akrab. Maka, telpon pun tentu tidak terlalu akrab bagi saya.

Tahun Baru 2009 sudah datang satu minggu. Anginnya lebih sering dingin, dan ini membuat saya lebih senang lagi bergelung di rumah dengan rumah keong ini. Tetangga, biarlah bertukar senyum saja atau sebaris kalimat di kala saya sedang ingin duduk di teras atau belanja bersama. Jangan pernah membayangkan saya duduk di teras tetangga saya berbagi matahari sore jika tidak sedang waktu arisan- yang bahkan sering saya lupakan tanpa pernah berniat melupakannya. Terjadi begitu saja, hilang dari ingatan. Dalam persoalan satu ini, mungkin ibu saya andil dalam kesalahan karena ajaran beliau yang mengatakan, ” Ojo sok nonggo “.

Hampir saya percayai bahwa saya tidak akan pernah melakukan kegiatan nenangga, hingga tahun baru ini datang. Tahun baru, tetangga baru, tiga rumah di samping kiri saya. Entah sudah berapa kali saya bertandang kesana, duduk di teras dan ruang tamu bahkan dapurnya yang hanya selebar rentangan tangan. Tidak setiap hari memang, tapi rasanya rumah itu akan terbuka dua puluh empat jam sehari bagi saya. Dan anak-anak saya.

Kadang, kami berbagi roti atau singkong. Atau….memasak bersama dengan posisi saya sebagai pencicip dan pencuci piring. Lalu masakan itu kami bagi secara tidak adil. Tetangga baru itu terlalu pengalah dengan alasan jarang makan hingga hanya membutuhkan satu mangkok sayur dan sepiring kecil lauk saja untuk dibawa pulang. Tentunya dengan posisi yang sangat tidak adil begitu, saya akan lebih senang membayari setiap bahan makanan yang kami beli di tukang sayur. Semuanya ini, tidak pernah terjadi bahkan bisa dimasukkan kategori ‘haram’ bagi Pak Uban untuk berbagi antar tetangga. Maksud saya adalah, kami boleh membagi makanan pada tetangga tetapi haram untuk sekedar meminta daun jeruk apalagi semangkok sayur. Artinya, tentu ini sebuah perkecualian amat besar.

Perubahan lain, adalah pagi hari . Manakala saya ingin bermimpi lagi sepeninggal ketiga kekasih hati ke tempat rutinitas, maka kebebasan itu tak saya peroleh lagi. Karena di saat angan sudah hampir menembus kabut yang paling melenakan, tiba-tiba pagar rumah dibuka begitu saja. Dan lampu-lampu di pendopo rumah dia matikan tanpa merasa perlu menanyakan alasan mengapa saya belum mematikannya saat itu. Satu dua hari pertama, saya akan begitu lintang-pukang keluar dan berbasa basi serta membuatkan eyang-eyang tetangga ini kopi. Hari-hari berikutnya, tentu menjadi terbiasa. Terbiasa untuk meneruskan mimpi pemalas saya atau mematikan lampu-lampu pendopo lebih awal daripada jadwal waktu yang saya tetapkan sebelumnya. Harus salah satu dari dua hal itu, sebab ini akan berlangsung bertahun-tahun seiring begitu pedulinya tetangga baru itu pada kehidupan saya.

Hari ini, saya bahkan rela menodai kelembutan cuaca sejuk sekitar rumah dengan kemasaman kata-kata saya demi terpasangnya sambungan telepon di rumah tetangga baru itu. Maklumlah, berhubungan dengan manusia-manusia yang tak pernah ingin berkoordinasi hulu dan hilir demi kepuasan pelanggan memang cenderung membuat kita ingin sekali menaikkan nada suara. Setelah semuanya selesai saya tidak merasa perlu melaporkannya ke rumah itu, menunggu hingga semuanya benar-benar berjalan baik dan siap berfungsi normal. Saya hanya ingin mereka, eyang-eyang berdua itu, tidak perlu repot berpikir dan hanya menikmati indahnya lingkungan berdekatan dengan saya dan Ari dan Rayi serta Pak Uban. Anak, cucu dan menantu mereka.

Oh ya….jika ada yang bertanya lagi apakah dunia menjadi lebih nikmat untuk ditinggali atau sebaliknya dengan suasana bertetangga seperti saya….sebenarnya semua orang bisa membayangkan jawabannya. Pertanyaan itu, mungkin hanya ingin mengulik kepribadian saya lebih dalam saja.





Hari Ibu dan Saya

22 12 2008

Hari ini, seperti tahun-tahun yang lalu. Seperti hari-hari biasanya, hanya sebuah hari yang baru dan akan berganti tepat dini hari nanti. Hingga pesan singkat seluler masuk,” Selamat Hari Ibu bagi semua ibu di Indonesia”. Dari seorang perempuan, seorang ibu.

Saya tertegun. Membalas pesan singkat,” Selamat Hari Ibu juga” …tanpa rasa. Tak ada bungah apalagi bangga. Tak ingin apa-apa. Apalagi ingin diistimewakan sesaat. Di sudut benak tercetus tanya,” apakah memang istimewa?”

Surat elektronik dengan bahasa bunga berbunga, puitis, ungkapan selamat. Dari para adam. Satu teman perempuan dan ibu menjawab,” Waaah….hari ini betul merasa tersanjung…”. Saya, tertunduk malu. Bertanya-tanya sendiri tentang bagian mana yang harus disanjung. Tersipu mengingat apa yang sudah terasakan di setiap menit. Beragam jenis cinta dari lelaki yang sama, dan terlalu banyak lagi yang tak mungkin tersebutkan agar tak terkesan pamer. Makin malu.

Lelaki ini, yang selalu memberi……..dia memberi lebih banyak. Saya, tak ada yang istimewa, tetap begitu. Keseharian, keharusan, bertahun namun masih juga tak pernah sempurna. Rasanya tak menandingi apa yang lelaki ini berikan. Maka begitulah mengapa saya malu, amat malu.

Saya perempuan, dan saya ibu. Maka begitulah nafas saya akan terhembuskan seperti setapak yang tergariskan. Tergariskan maka tak ada alasan untuk mengelak . Dan itulah mengapa tak istimewa. Ada atau tidak hari ini, begitulah kewajarannya. Dan memberi seharusnya membandingkan dengan dia yang memberi lebih banyak. Bukan menerima lebih besar. Dan semakin memikirkannya, maka semakin kuranglah rasanya bagian saya dalam memberi. Itulah mengapa malu.

Saya, cukup saja memahami dari sorot mata yang begitu mencintai……….





KENANGAN

12 12 2008

Satu menit berlalu, maka semuanya menjadi kenangan. Mungkin sepanjang sisa umur kemudian, atau malah tak berarti. Kepastiannya, tak mungkin lagi dijumput sejangkau tangan mengacung. Atau sekeras niat mengkristal. Bahkan semesra rindu mendayu…..yang telah lalu maka berlayar sudah. Dan rindu hanya bisa menggantung sendu dalam halimun.

Waktu adalah maharaja absolut yang membentengi menit,jam,hari,minggu,bulan dan tahun yang berlalu. Terlalu keras dan disiplin hingga tak diijinkannya siapapun mengambil kembali bentuk-bentuk yang telah direnggutnya dari setiap yang terjadi. Ingin marah tak guna. Menyesali pun untuk apa. Mengulang keriaannya pun tak mungkin. Maka biarlah sang maharaja menyelesaikan tugasnya. Karena begitulah keadilan yang sesungguhnya dia ciptakan demi kekinian dan nanti.

Ketika yang berlalu adalah pedih perih dan mengumbar tangis, manusia seolah tak merasa perlu melirik lagi benteng waktu yang membentang. Ingin semua terbang tak bersisa bahkan tak setitik juga dalam gas. Entah mengapa, ketika benteng waktu itu membawa seruas saja suka bahagia tawa pesona…..benteng itu ingin dibuat runtuh berkeping. Hingga semua mencair dan diteguk rindu yang memabukkan. Sedang semua tak mungkin lagi. Udara menit ini berbeda dengan yang sudah lalu, mestinya suara tawa yang ada pun tak seirama lagi. Tak mungkin menjadi harmoni peri kerinduan.

Dan begitulah maharaja absolut itu berkata,”….maka biarkanlah…..dan tembuslah waktu di hadapan. benteng ini benteng kabut tipis. tapi kekuatannya tak satu menandingi. pandangi saja di kejauhanmu dan nikmati semua sari rasa yang tersisa. mungkin kamu temukan berlian jika tak kau sentuh yang pernah menjadi duri di nafasmu, dan kau hirup busuknya yang kini mewangi. mungkin menjadi pedang yang menusukmu, jika kau coba raih kilau emas yang telah lalu. karena kilau itu akan melalui ribuan mesin pengasah dan tetap tak mampu menempatkan dirinya dalam kekinian.”

Disini….tangan halus membelai . Menggamit dan menuntun….ini jalan kecil dan berliku penuh misteri. Tapi ini adalah jalan yang kini……….