Sempurnanya Manusia Itu…..
13 05 2008Aku memulai keisenganku pagi ini. Mencari yang tak perlu dicari, memikirkan atau terpikir sesuatu yang tidak perlu dipikir. Di tengah rutinitas keseharian dalam peran menjadi nyonya dan ibu. Aku memikirkan tentang sifat atau watak. Apakah watak itu menetap dengan memilih jenis kelamin? Rasanya tidak.
Katanya, entah siapa yang pernah berkata-kata hingga dipercaya banyak orang, wataknya manusia perempuan itu teliti, cerewet, sensitif, suka memperpanjang dan mendramitisir masalah, membuat yang sederhana jadi tidak sederhana, dan hampir semua yang kesannya rumit. Laki-laki ? Katanya sih sebaliknya. Makanya selalu terjadi perdebatan ringan, lucu, santai tapi juga menjurus emosional bahwa yang satu tidak mengerti yang satunya lagi.
Ada teman yang bisa begitu resah menunggui putranya akan dikhitan, sedangkan dia dulunya adalah subyek yang mengalami perlakuan dukun khitan. Aku tak pernah mengerti lika liku persoalan itu selain garis besarnya saja, dan dua kekasih kecil yang lahir dari rahimku harus khitan. Untuk kamu tahu, aku sontak heran ketika teringat tak ada rasa resah di dada ketika pengalaman pertama pada sulungku terjadi. Aku tak sensitif ? Tuhan saja yang tahu benar tidaknya.
Teman lain laki-laki begitu sibuknya membuat tulisan penuh emosi hanya karena merasa wewenang kecilnya terlangkahi, katanya. Aku dan satu teman perempuan, yang lebih banyak merasa dilangkahi wewenang kerja kami justru oleh teman laki-laki tadi, bingung setengah mati. Caranya teman lelaki tadi meluapkan emosi, sangat perempuan. Akhirnya, teman perempuanku tadi mengucapkan kata maaf tapi tetap tak mengerti bagaimana yang lelaki itu bisa begitu perempuan. Aku ? Karena sabar sudah tak punya lagi maka memutuskan lebih enak mengungkapkan fakta-fakta apa yang disebut langkah melangkahi dalam sebuah komunitas, dengan gaya yang lebih lelaki dan membuatnya diam.
Ada lelaki yang lebih teliti merawat barang miliknya sedangkan perempuan yang bahkan tak mengerti apa tugas perempuan di rumah juga tak sedikit. Ada banyak contoh ketidaksesuaian watak dengan sang pemilik raga. Apa yang menjadi masalah ?
Angin yang sempat membisikiku membawa pendapatnya sendiri. Yang kudengar dari bait-baitnya adalah perkara nilai yang tertanamkan dalam benak tiap kepala, manusia lain yang berlari di sekitar, halaman-halaman hidup yang pernah dibuka dan ramuan dasar yang terbentuk sendiri sebagai wadah tampung segala bekal. Sedang aku sendiri memandang betapa sempurnanya manusia dengan segala sisi hitam putihnya dalam satu raga. Tak perlu disangkal, hanya perlu diasah dan terarah baik kemana akan melesat. Dan dengan segala yang bisa terjadi pada tubuh sedari bayi yang menangis tak mengerti aksara, mungkinkah segala perlekatan itu memilah dan memilih lebih dulu tentang jenis kelamin. Yang ada hanyalah sebentuk manusia saja.
Maka, kalaulah manusia itu menjadi tidak sempurna karena sisi tak populer dalam raganya, buatku betapa sempurnanya manusia dengan segala ketidaksempurnaannya. Lengkap !
Kategori : Omong Kosong

Komentar Terakhir