Untuk Pagi Yang Berikut

1 03 2013

Entah kenapa, pagi kemarin hawanya berbeda.

Tidak ada selarik senyum yang mampu terkembang. Tidak ada kepala tegak meski batang leher sehat menopang. Kopi gelas besar hanya mengalirkan hawa hangat ke seluruh relung nadi dan tidak punya kesaktian apa-apa. Pelan, justru ada tetes lain selain tetes hitam pekat itu. Dan semakin deras.

Ada hari-hari panjang yang sudah berlalu tanpa ekspresi. Bukan, bukan tak ada. Hanya tak dilepaskan. Semuanya mengikuti alur dunia. Ketika dunia memintaku tertawa, maka aku tertawa. Ketika dunia memintaku diam, ya sudahlah diam. Dan dunia tak pernah ingin mendengar edisi diri ini terbit tanpa editing. Majulah berani selayaknya lahirmu yang asli, maka bisa dipastikan bertubi-tubi caci cela mendera.

Lelah akhirnya. Pecahan gelas jika ada, tidak membantu apa-apa selain ramai dan kotor.

Lalu kaki yang terantai. Entahlah, itu rantaiku sendiri atau pemberian tapi langkah jadi berat. Dan aku malu. Di tiap sisi mata ini melirik, ada banyak makhluk-makhluk yang katanya lemah, menjadi perkasa dan sakti. Mereka tidak sempurna, tapi mereka sakti. Mereka punya daya. Lalu aku?

Saat ingin melepas belenggu, datang lagi belenggu lain. Sungguh, ternyata akulah si lemah. Cuma ada takut dan menjadi pengecut, lalu memukuli batin sendiri.

Entahlah……

Masa gulita, harusnya tak boleh kukenal lagi. Membawa wajah kekasih-kekasih kecilku yang kini mendewasa dan selalu mendamaikan jiwaku, harusnya cukup. Mari, kucoba berjalan. Kutapakkan kaki perlahan, mencari kekuatan yang ada di bawah sini. Dan hembusan nafas yang tidak sia-sia. Semoga tidak kukenal kata jatuh dan menangis.

Biar matahari dan kopi tak merasa tanpa daya.

Biar tak ada lelah tanpa makna.

Image





Dia panggil aku : “Gombal”

14 03 2011

Gombaaaallllllllll…………….”

Dia berteriak tidak lantang, tapi cukup terdengar. Satu tangannya menggenggam tas kantor dan yang satunya lagi menutup pintu lorong. Ya, dia selalu masuk dari pintu lorong dan bukannya pintu depan. Aku lupa kenapa, mungkin hanya karena pintu itu yang selalu tak terkunci dan tak perlu menunggu ada yang membukakan pintu.

 

Panggilan itu, “Gombal”, ditujukan buatku. Aku tidak pernah protes, seingatku. Bahkan juga tidak pernah bertanya alasannya memanggilku dengan nama itu. Yang kuingat, setelah itu aku berlari ke lorong rumah Imam Bonjol itu dan kemudian mendarat dalam gendongannya…..Bapakku. Tas kantor sudah berpindah ke tangan ibu. Umurku masih 4-5 tahun mungkin. Karena setelahnya, tak ada lagi ritual itu karena berat badanku bertambah seiring usia. Tapi nama panggilannya untukku, justru mulai melegenda di komunitas menari-ku. Ibu yang membawa dan mempopulerkannya disana. Hingga sekarang, teman-temanku dari kalangan penari masih selalu memanggilku begitu.

 

Bapak sendiri sudah berhenti memanggilku Gombal. Tebakanku, dia berhenti memanggilku begitu karena aku makin dewasa dan sudah tidak lucu lagi di hadapannya. Dia memang bijaksana. Dalam pikirannya, aku mungkin membutuhkan nama panggilan yang sebenarnya agar tidak malu dihadapan orang lain. Dia menghormatiku sebagai pribadi yang mulai dewasa meski aku tidak pernah memintanya memanggil dengan cara berbeda dan tidak juga keberatan.

 

Sekarang, buatku panggilan itu lebih terasa monumental dibandingkan sebelumnya. Dia- Bapakku-yang sudah mencoretkan sejarah nama panggilanku di komunitas tari, sudah pergi. Pergi memenuhi takdirNya. Dan Kamis, 10 maret 2011 ( Jumat Pon dalam hitungan Jawa, tepat hari kelahirannya ) adalah hari terakhirnya di dekatku. Setelah kuselesaikan bacaan Yassin untuknya sambil menggenggam tangannya yang bengkak, aku bisikkan La illahaillallah. Airmatanya menitik dan kuusap.  Meski dia tahu bahwa aku tahu itu saatnya, dia menunggu aku pergi menemui dokter dan menelepon kakak-kakakku hingga tidak kusaksikan lepasnya nafas terakhirnya. Dia pergi dengan tenang dan sangat perlahan………..

 

Pak, mungkin sudah suratan pula…..Gombal ini, anak bungsumu, yang ada disampingmu di saat-saat terakhir…………..dan itu adalah momen yang paling berharga buat Gombal……………….





sekali lagi…..

18 01 2011

Mendung yang tidak segera pergi dan hanya mengijinkan hujan menyela kehadirannya….tidak untuk matahari…….kupandangi saja dari sisi ini. Abu-abu…….seperti layaknya warna ragu…….namun sesungguhnya dia kuat….warna yang tegas, meski katanya hasil sebuah paduan.

 

Kadang mendung ini mengganggu, menghambat jalan sinar. Tapi bukankah sinar layak dicari dengan cara apapun?

Aku disini, seperti abu-abu. Berpikir. Sekali lagi. Mendapatkan kata yang berulang, tapi selalu mampu membuat berpikir untuk tidak segera menjawab. Sekedar berpikir tentang jawaban yang tak bertepi runcing, karena kata yang hinggap dari kicau burung itu juga memasukkan duri.

 

” Tak mengapa kamu jejakkan kaki di rumah, jika semua sudah terpenuhi”

Terlalu sederhana. Terlalu pendek. Terlalu sempit. Sulit untuk menerimanya tanpa rasa sinis. Sulit juga untuk bicara tak bertepi runcing. Lebih sulit untuk hanya menjawab dengan senyum, tanpa kata.

 

Seribu alasan pernah hadir bagi siapa pun yang berdiri di sudut ini. Semuanya sah !

Seribu rasa menyertai jejakan kaki disini. Semuanya sah dan subyektif ! Maka jangan bicara dengan satu kalimat, karena tidak akan cukup.

 

Jika kamu tahu tidak mudah menuliskan keputusan maka lebih tidak mudah ketika sudah benar-benar menjalani. Tidak mudah, bukan berarti gelap. Tinggal bagaimana awal kamu memutuskannya, begitulah seterusnya warna kacamatamu. Tapi jika kamu siapkan aneka kuas dan pewarna, kamu akan mengerti bagaimana pelangi bisa hadir.

 

Bahkan sekedar berdiri saja disini, tak pernah selugu itu maknanya. Perkaya hatimu dengan cinta, baru kamu akan mengerti……..

 

*bagi semua fulltime mother ……

 

 

 





Perempuan adalah Rasa Sakit………..

24 11 2010

Mengapa?

Sembrono sekali berpikir begini. Ah, memang dia datang begitu saja untuk sebuah kesimpulan tentang sesuatu.

 

Memandang langit-langit putih, disana tergambar perempuan biasa. Perut besar, nafas lebih pendek, keringat bervolume lebih dari yang biasa, hidung memanjang ke tempat yang jauh dan memporakporandakan asam lambung, …..untuk masa tiga perempat tahun. Tidak nyaman, tapi itu kodrat dan bisa membahagiakan dunia.

 

Keringat membanjir, sayatan, tarikan, hentakan nafas……….dan kehidupan kecil lain mengisi dunia. Sakit, tapi itu kodrat dan nyata membahagiakan dunia.

 

Tengah malam membuka mata yang kodratnya ingin terpejam, menyusui, mengganti popok …. tanggungjawab demi kelangsungan hidup manusia kecil. Dan ayam sudah datang menjemput kepala mentari. Perempuan, bersahabat dengan air,api, beras gandum aneka rempah, …bakti dan cinta kepada tulang rusuk tempatnya bernaung. Kepada kehidupan kecil yang dia tetaskan. Lelah, dan tanggungjawab bahu membahu.

 

Di tengah kekuasaan matahari, dunia berputar cepat dan perempuan terseret dalam putaran, dengan sedikit kesempatan mendatangkan mimpi malam yang tertunda.

 

Dunia menua, menyisakan debu kerikil bahkan berlian pada kulit bumi dengan porsi berbeda bagi tiap manusia didalamnya. Perempuan, dengan kedua tangannya menerima semua bentuk putaran dunia. Api, maka perih dia rasakan. Jarum, maka berdarahlah jemarinya meremas. Berlian, berkilau genggamannya namun kadang dibaliknya  tersimpan pisau menyayat kanan kiri.

 

Mulutnya seringkali salah mengucap ketika terbuka, dan menghempaskan perempuan dalam sepi. Diam pun, lalu dia saksikan dunia berputar oleng dan membuatnya turut jatuh tersungkur. Maka semua menjadi kekeliruannya.

Melangkah jauh menjangkau sinar dalam putaran yang cepat, membuatnya tak dapat menjangkau manusia tetasannya dan melemparkan mereka di sudut cela tempat segala cerca mendarat. Duduk pun, seringkali menjadi andil olengnya kapal yang dia tumpangi. Maka semua menjadi kekeliruannya.

 

Cinta yang terlalu besar diberikan pada manusia tetasannya, juga tak selalu berbuah cantik. Dan tiba-tiba dunia memiliki banyak jari telunjuk mengacung menuju padanya. Maka semua menjadi kekeliruannya.

 

Hasratnya, untuk menjadi indah mungkin melemparkan tulang rusuknya pada sudut kelam. Dan tiba-tiba dunia memiliki banyak bibir berteriak di telinganya. Maka semua menjadi kekeliruannya.

 

Hanya ada langkah kecil, sedikit suara, rengkuhan pendek, hasrat sederhana dan hati yang luas bagi perempuan. Maka disitulah segala rasa tertampung menyesaki dan menusuk-nusuk dari sisi-sisi tajamnya. Sakit adalah bagian yang  terbesar menyelimuti, dari semua rasa yang ada.

 

Tetapi, perempuan ………. senyummu menyembuhkan. Tidak untukmu, tapi untuk dunia. Sakitmu mendewasakan. Itu yang terbaik. Terimalah ………. dan tetap tak takut melangkah, bersuara dan merengkuh dalam jangkauan akal sehat kepala kecilmu…………

 

 





Dimana Jendela Untuk Saya?

28 10 2010

Suatu kali, saya sengaja menikmati duduk sendiri di tengah kegelapan alam. Langit yang menghitam meski jarum jam masih di angka muda, suara gelegar alam menghentak jantung, kejar-mengejar air hujan dari atas sana saling susul untuk mencapai tanah, dan bohlam yang tidak kunjung dinyalakan……..rasanya semua itu menjadi satu kerjasama luar biasa untuk membuat warna dalam dada dan kepala ini menjadi pekat.  Ada ngeri, itu pasti. Sepertinya, saya akan ditelan alam ini tanpa sempat memberi kabar pada siapapun. Hebatnya lagi, kengerian itu juga mempertegas luka.  Ah, kok luka lagi yang saya bicarakan. Yah, anggap saja saya tak mau beranjak dari kubangan itu meski niat juga ada.

Sendiri, tidak aneh juga sebetulnya bagi saya. Dalam 24 jam waktu yang ada, 8 hingga 10 jam diantaranya saya memang selalu sendiri. Tapi belakangan ini terasakan sendiri itu adalah dingin. Sakit.

Beberapa peristiwa yang terjadi dan memporakporandakan kehijauan rasa hati terasa seperti hanya sebuah potret yang tidak ada wujudnya. Atau film yang ditonton tanpa konsentrasi penuh tapi saya ketahui jalan ceritanya secara lengkap dari bertanya kesana kemari atau pandangan sekilas lalu. Atau mungkin, seperti terjangan angin yang menumbangkan pohon-pohon besar dan membuat daun ranting berguguran porak poranda, lalu tiba-tiba diam. Mati angin, dan semua hanya cerita. Tapi pohon tumbang dan guguran daun nyata jadi satu-satunya bukti bahwa terjangan angin itu pernah ada. Tinggal saya duduk sendiri di tepi jalan, menekuri kesunyian.

Kemana yang lain? Ada. Sudah larut dalam pusaran ibukota. Luka yang ada dalam hati mereka, tertutupi pusaran angin berikutnya. Saya, suka atau tidak, tidak punya banyak pilihan untuk bisa seperti mereka. Keheningan membuat semua rasa itu jadi kental.  Justru karena mati angin itu, kegamangan menyergap saya dan menyisakan banyak waktu untuk membelalakkan mata lebih lebar dan mencari  apa yang telah terjadi sebenarnya. Sungguh-sungguh saya terduduk sendiri . Berusaha menikmati, adalah selalu jadi cara saya untuk berdamai dengan kegetiran.

Lalu saya mencoba mencari jendela yang terbuka. Untuk bertanya. Untuk bercerita. Untuk menjelaskan semua. Untuk mencari telinga yang mampu berdekatan dengan bibir ini dan melegakan hati saya, sejujur-jujurnya. Tidak ada jendela. Tidak terbuka. Saya tidak mampu menemukan jendela mana yang boleh saya ketuk dan buka. Sempat terlihat oleh saya, satu jendela yang memiliki celah kecil hingga bisikan saya bisa sampai. Saya beranikan diri membukanya lebih lebar, tapi tak pernah bisa lebih dari sejengkal. Karena jendela itu tidak saya kenali dengan baik. Begitupun terasa sedikit melegakan dan membuat saya tak terlalu pegal menyanggah beban.Ada juga jendela yang saya ketuk, tetapi yang tampak adalah gelengen kepala halus. Cerita saya tidak laku, pikir saya.

Sampai saya sadari, saya berada di sebuah jalan maha panjang yang entah dimana ujungnya. Saya tidak bisa berhenti berjalan. Harus terus berjalan. Tidak ada banyak waktu untuk berhenti dan beristirahat sekedar menitikkan airmata. Apalagi mata ini memang aneh dan sulit sekali meneteskan airnya. Mungkin saya bahkan membutuhkan burung phoenix untuk menyembuhkan luka yang ada, yang pasti segalanya tak bisa diam disitu.

Satu hal yang saya yakin adalah perjalanan ini akan selalu ditemani angin. Perlahan, segalanya akan baik atau mungkin akan terjadi lagi seperti yang lalu. Menderu kencang menumbangkan segalanya, lalu dikala lain lembut menyejukkan, dan yang lainnya bertiup kering. Di semua pergantian itu, rasanya tidak mungkin untuk saya selalu menoleh kiri kanan mencari jendela yang siap terbuka untuk saya. Suatu saat, saya harus berani mengetuk dan bertanya adakah di dalamnya yang sudi untuk saya bisikkan sebuah cerita. Dan cara itu membutuhkan keberanian, bahkan niat untuk meluluhkan sendiri kekerasan hati, dan keengganan untuk membuka bibir……….

Setiap sore, alam selalu menawarkan warna yang sama disini. Saya juga masih sendiri. Apa yang saya lakukan? Saya cuma berteriak dengan bahasa saya……………..sekuat saya bisa………..





you got your points, son…..

27 09 2010

Sapuan pagi ini, secara khusus kulewatkan dengan berpikir tentang sebuah “tanaman”.  Laksana pokok pohon yang ditanam di pekarangan, pohon itu makin membesar kini. Tumbuh alami, hanya sedikit pupuk yang sengaja ditaburkan di sekitar akarnya. Selebihnya, mereka tumbuh  bersama hujan deras, angin kencang, debu kering dan kadang sampah yang tak sengaja tersangkut. Cabang-cabangnya yang kadang tumbuh tak beraturan, sesekali kupangkas karena merusak keindahan pohon itu sendiri. Ada doa saat itu, semoga cabang seperti itu tak tumbuh lagi.

Tanaman itu, adalah kekasih-kekasih kecilku….yang hingga dunia berhenti berputar pun dalam usia tua mereka kelak, akan selalu menjadi kekasih kecil bagi hati ini. Mereka kini makin pandai melihat jalan yang lurus dan berkelok. Mereka tahu, hidup tidak mulus. Mereka makin mengerti mengelola rasa, pikir dan ucapan yang layak untuk disaksikan dunia dan memilih mana yang harus disimpan sendiri. Dan pekerjaan itu masih terus berlangsung…..pekerjaan sepanjang nafas ada….

Pagi ini, satu dari mereka meminta ijin untuk pulang terlambat meski sekolah pun usai sudah senja. Pasalnya, dia dan teman-teman organisasi OSIS yang sedang mengkader pengurus baru akan menghadapi sidang Guru bidang kesiswaan. Terkejut, itu pasti. Ibu mana di dunia ini akan senang dan rela mendengar kabar buah hatinya menghadapi sidang guru. Menekan rasa, kutanyakan duduk perkaranya. Persoalannya adalah bagaimana mempertanggungjawabkan protes seorang siswa atas sebuah keputusan untuk tidak menerima siswa bersangkutan menjadi anggota OSIS baru.

Dia lalu menjelaskan, karakter siswa yang melakukan protes itu. Siswa itu adalah seorang siswa yang pandai dan cakap, dan dirinya menyadari penuh segala kemampuannya itu. Namun, kesadarannya cenderung berlebihan sehingga siswa itu lalu mulai tampak bersikap mengecilkan teman-teman lainnya dan tampil sebagai single fighter. Dia dinilai tidak mampu bekerjasama dalam sebuh tim kerja dan akan menimbulkan keresahan dalam kelompok pengurus itu selama setahun penuh. Terlebih lagi jika yang bersangkutan akan menjadi pemimpin kelompok.

Anakku lalu berkata,” Dia bahkan nggak mampu menerima dan menanggung kegagalan waktu ditolak itu. Dia berteriak kencang dan histeris sampai terdengar ke penjuru sekolah . Dia nggak mampu menguasai dan mengelola emosinya. Gimana nantinya dia mampu menghadapi kegagalan kerja kelompok? Mosok dia sampai ngajak orangtuanya protes ke Kepala Sekolah sedangkan hal itu adalah masalah pribadinya, bukan masalah orangtuanya”…….

Waktu yang semakin sempit untuk bisa berdiskusi panjang karena harus segera berangkat sekolah, membuatku tak punya banyak waktu untuk mencerna dan berpikir tentang anak mbarep ini. Jauh lebih penting saat itu adalah memberikan dukungan padanya untuk berani menghadapi sidang itu. Mempertahankan pendapatnya jika benar dan tidak takut berdebat dengan dewan pembina kesiswaan, dengan tetap menjaga kesantunan sebagai seorang murid di hadapan guru yang notabene orangtua mereka di sekolah. Mendorongnya untuk menularkan semangat itu pada teman-teman seperjuangannya, dan memancingnya untuk mengajukan argumentasi-argumentasi yang berproyeksi jauh ke depan sebagai cikal bakal pembentukan sebuah pribadi dan manusia yang utuh. Manusia yang tidak mendewakan kepandaian dan kemampuan intelektualitas semata, tetapi juga harus memiliki kesadaran sosial untuk bertenggarasa dan bergaul baik dengan teman-temannya.

Saat dia sudah berangkat sekolah, barulah kucoba rasa dan pikirkan semuanya. Kusadari sesungguhnya, apa yang kupompakan dalam semangatnya tadi dan semua hal yang kukatakan sebagai bahan argumentasi, sudah dia ketahui. Anakku sudah mengerti bagaimana menjadi seorang pemimpin, seorang anggota kelompok dan seorang teman. Anakku sudah menilai kemanusiaan seseorang tidak dari satu sisi saja. Anakku sudah menerapkan pengetahuannya dalam memilah sebuah persoalan, mana yang harus diselesaikan sendiri dan mana yang masih membutuhkan bantuan orangtua.

Lalu aku ingat, bagaimana kadangkala kegundahan datang menyembul ketika mengetahui bahwa dia tidak mendapatkan ranking seperti yang selalu dipamerkan banyak orangtua. Angka akademisnya sangat biasa. Dan sekarang satu hal lagi diantara banyak hal dia berikan padaku, dia tunjukkan bahwa dia mulai tahu bagaimana harus menjalani hidup di tingkat awal. Dia tahu harus bagaimana menjadi seorang MANUSIA.

Nak, kamu pasti juga mengerti bagaimana seorang ibu terhadap anaknya………





Tidak Tahu

7 04 2010

Selepas belahan jiwa dan kekasih-kekasih kecil pergi, saya selalu sendiri disini. Mungkin agak terang matahari sedikit, akan ada satu mbak datang membantu urusan rumah hingga selesai tugasnya pertengahan hari lalu pulang kembali. Tapi secara keseluruhan, saya memang sendiri dan melakukan banyak hal termasuk yang tak penting. Atau keluar rumah juga untuk urusan rumah lainnya sementara si mbak menjaga dan menggantikan tugas saya sementara waktu. Dan di awal hari itu, kopi adalah teman terbaik dalam kesendirian saya selain saluran internet.

Ada banyak hal yang lalu masuk di antara saya dan kopi itu, baik hitam atau tri in wan. Yang paling sering tentu saja tentang hubungan manusia dan Sang Gusti. Penciptaan-penciptaanNya yang tak pernah bisa dipahami manusia seutuhnya, entah yang baik atau buruk dalam mata manusia. Meski tak pernah saya mempertunjukkan prosesi ibadah saya ke hadapan manusia lain, yang terpenting adalah bagaimana saya menghayati hubungan itu dan tak perlu diketahui orang lain.

Lalu ada bencana datang di sela-sela keseharian itu, di kehidupan saya sendiri ataupun bagian mana saja di bumi ini. Suara tangis, teriak, rintih hingga caci maki akan menjadi pertanda munculnya emosi yang menyertai setiap bencana. Sebuah perwujudan tentang bagaimana tiap manusia menghayati lembaran-lembaran perjalanan hidupnya. Kadang, lalu manusia menjadi semakin kreatif dan menunjukkan kepandaiannya dengan mencari hubungan sebab akibat dari apa saja yang datang di hadapannya.

Saya…….saya lebih memilih menghirup kopi dalam-dalam selagi hangatnya belum hilang. Bukan tak peduli, bukan juga hirau. Saya hanya tak tahu harus apa. Bahkan saya tidak tahu, haruskah saya mencari sebab dan akibatnya? Lebih tidak tahu lagi, jika sebab itu ditemukan lalu kemungkinan emosi apa yang akan membanjiri saya. Lalu emosi itu akan membawa saya kemana? Saya sungguh tidak pernah tahu alasan Sang Gusti memberikan semuanya kepada manusia. Yang senang dan baik bagi manusia, juga yang berupa bencana dan tampak buruk di mata manusia. Ketika kebaikan datang, apakah itu hadiah ataukah ujian….dan ketika bencana, apakah itu hukuman atau ujian. Saya tidak pernah tahu sebesar ketidaktahuan saya apakah tujuan semua ketidakbaikan hanyalah untuk satu manusia mempersalahkan manusia lain.

Mungkin terlalu banyak menyesap kopi membuat saya bodoh dan berhenti bertanya dan mencari tahu tentang semuanya. Salahkah saya jika saya tak bertanya dan hanya meyakini saja bahwa segala sesuatunya mutlak adalah rencana dan kekuasaanNya semata. Salahkah saya, ketika saya percaya bahwa manusia juga membutuhkan apa yang tampak buruk itu justru untuk melihat ke dalam  dan memperbaiki diri, lalu membuat manusia semakin menyandarkan hidupnya kepadaNya?

Gusti, percayalah…….saya bahkan tidak mengerti apakah Engkau memang memilih tempat tertentu saja untuk menerima apa yang tampak tidak baik itu. Saya hanya ingin terus meyakiniMu…………..karena saya takut padaMu…